BARRISTER BABU 11 FEBRUARI 2020 EPISODE 1

BARRISTER BABU 11 FEBRUARI 2020  EPISODE 1

INTERPRETASI SINOPSIS : MADE TITIS MAERANI

 

DESKRIPSI FILM :


Di sebuah desa kecil adalah seorang gadis muda bernama Bondita, putri seorang janda. Dirusak oleh kekejaman yang dihadapi ibunya karena kematian mendadak ayahnya, Bondita menantang aturan adat dalam setiap langkah hidupnya.


SINOPSIS EPISODE 1 

 Disebuah  desa, iringan pengantin sedang melintasi jalan perkampungan, beberapa anak perempuan sedang bermain diatas pohon mengamati dari kejauhan. Seorang gadis (Sampoorna)) berkata “akankah tandu seperti ini akan datang untuk ku juga?”.., akankah pernikahan ku seperti ini?”.., ibu ku berkata dia akan mendandani ku,  jadi aku akan berkilau”. Sampoorna mengatakan pada Bondita “ Maukah kau mempercantik ku juga?”. Bondita mengamatio kerta penuh makanan dari kejauhan, ia tersenyum senang. Sampoorna bertanya sekali lagi pada Bondita “Katakan pada ku, maukah kau melakukannya”. Bondita menjawab “aku mau makan “. Sampoorna terkejut “Apa?”. Bondita mengatakan “Rasagullas manis!”.., apa lagi?”. Sampoorna meminta pada Bondita “Jangan melompat”. Bondita tidak mau mendnegarkannya, ia melompat dan mendarat dengan sempurna di tanah, Sampporna tersentak kaget dan memanggilnya “Bondita”, namun Bondita berlari. Sampoorna mengatakan “Bisakah kau mengentikan gerobak lembu jantan itu?”. Bondita tersenyum menatap Sampoorna. Bondita berjalan menghampiri gerobak itu dan saat itu beberapa ekor kambing menghalangi iringan pengantin, Kusir berkata dengan kesal “Dairmanakah asal kambing ini?”.., Hey!.., enyahlah, menjauhlah”.

Bondita sampai pada kerta pembawa makanan dan ia membuka satu persatu tutup kendi, ia membuka pembungkus berwarna putih dan menemukan banyak makanan Rasagullas dan menjulurkan lidahnya, beberapa teman-temannya datang, sementara itu Sampoorna cemas dan masih diatas pohon berkata “Jika ibu ku tahu maka dia (Bondita) akan dihukum”. Bondita mengambil makanan dan hendak memakannya, ia berhenti memakannya. Saat itu kusir menyadari kehadiran Bondita dan juga anak-anak yang lainnya berkata dengan sangat kesal “Hei, anak-anak!”.., apa yang kau lakukan disana?”. Berhenti!. Bondita berlari bersama teman-temannya dengan membawa makanan di tangan mereka dan Kusir mengejar mereka. Bodnita terus berlari menuju kerumahnya dengan membawa makanan di tangannya dan melewati orang-oranng yang berlalulalang.

Bondita sampai dirumahnya dan memanggil “Ibu!”. Ia berlari mencari keberadaan ibunya (Sumati)“Ibu.., Ibu”. Ibunya sedang memeras dan akan menjemur pakaian menjawab “Iya”. Dengan senangnya Bondita berlari mencari ibunya dan tertawa senang dengan makanan di tangannya “Ibu”. Ia berjalan mencari ibunya dan berkata “Ibu, coba tebak apa yang aku bawakan untuk mu?”. Ketika ibunya masih menjemur Bondita berkata “Tidak bisakah kau memikirkannya?”.., Bondita memberitahu kepadanya bahwa ia membawakan Rossugllas. Sumati menolak dan berkata pada Bondita “aku tidak mau memakan apapun”. Bondita meminta agar ibunya melihatnya “Lihatlah, aku tidak akan membairkan sirup gulanya tumpah”. Ibunya masih sibuk memeras dan menjemur kain, Bondita mengatakan “apa kau tidak ngiler?”. Ibunya menjawab “Tidak!”. Bondita mengatakan “ayo makan sekarang.., apakah orang lain juga tidak akan memakannya?”. Ibunya berkata pada Bondita “ aku katakan tidak”. Bondita berkata “aku sama sekali tidak menyukainya ketika semua orang memakan hidangan enak  dan kau memakan makanan basi.., tolong makanlah untuk ku, mengapa kau tidak mau memakannya?”.., katakan pada ku kenapa?”.., bukankah aku ini putri mu?”.., apakah kau tidak mencintai aku?”. Seorang wanita datang dan meanrik kain yang hendak akan dijemur oleh Sumanti, ia terlihat sangat marah dan memelototinya. Wanita itu menjawab semua pertanyaan Bondita dan berkata “karena ibu mu adalah janda, kepalanya yang botak bukanlah untuk pertunjukkan”. Bondita menatap Sumanti yang hanya terdiam, Wanita itu bertanya pada Bondita “apakah kain putihnya itu nampak seperti sedang didandani?”.., ayah mu meninggal 6 bulan yang lalu, apakah kau masih belum mengerti?”.., seorang janda tidak boleh berdandan, memakai perhiasan (ornamen) atau makanan enak, tersenyumlah atau bahkan menganggapnya sebagai dosa?”.

Bondita bertanya pada wanita itu “Bibi, apakah kau juga bahagia?. Bibinya melihat makanan ditangan Bondita dan membuangnya dari tangan Bondita dan berkata “Iya”. Lalu kemudian ia membawa Bondita bersama dengannya, Sumati hanya terdiam dan berlari mengejarnya, Bibinya mengatakan “Itu adalah dosa bagi seorang janda ini jalan menuju kebinasaan  dan kau harus mengingat hal ini.., bahwa kehidupan sebagai seorang jandai adalah lukisan yang basah kuyup ditengan hujan, semua warnanya luntur dan hanya tersiasa satu warna yaitu warna putih”. Bondita bertanya pada Bibinya “apakah peraturannya sama untuk semua orang?”. bibinya menjawab “Jika tidak sama apakah itu aturan?”. Bondita bertanya pada bibinya “bahkan untuk paman Sumanti?”.

Bibinya kesal dan mengatakan pada Bondita “Suman adalah saudara ku, apakah kau tidak tau hal itu?”. Bondita mengatakan “Dia juga seroang Janda, apakah kau tidak tau itu?”.., kau menyuapinya mulutnya dengan banyak rasagullas dari pada yang bisa di tampungnya, bahkan dia tidak memakai kain putih, dia memiliki banyak rambut bahkan kepalanya bisa dianyam”.., Mengapa lukisannya masih berwarna?”. Sumati menghentikan dan menutup mulut putri kecilnya “Hentikan Bondita, jangan kau bertanya pada bibi mu seperti itu, itu salah”. Bibi itu menghentikan Sumati “Tidak sudari!..,  terus bicara, beritahu pada ku dimana bingkai kecil mungil ini menyembunyikan lidah panjang itu!”. Bondita menjawab “ditempat yang sama, dimana kau menyembunyikan semua manisan yang di bawa oleh paman itu.., dan juga permen pedas!”. Bibi berkata dengan sangat kesal dan akan memukulnya“ Semoga dewi kali berbelas kasihan! Aku..”.

Sumati memeluk Bondita berkata “Kakak ipar, tidak benar untuk memukul anak kecil”. Bibi mengatakan dan memarahi Sumanti “Jika kau mengaharinya beberapa hal tentang kesopanan dan hidup sebagai seroang gadis dengan kepala tertunduk, bukankah itu akan lebih baik?”. Dengan sangat kesal Bibinya menarik Bondita bersama dengannya dan Sumati mengikutinya dari belakang. Bondita berkata “Bukankah lehernya itu akan bengkok?”.., jika aku menundukkan kepala ku sepanjang waktu?”. Bibinya membawanya ke pohon besar dan berkata “Ayo, naik kesana”. Wanita itu akan mengikat Bondita dan berkata “Dia selalu berbicara tanpa henti”. Kemudian meminta Bondita untuk mengulurkan kedua tangannya, lalu Bibinya mengikat tangan Bondita dihadapan Sumanti yang tidak dapat berbuat banyak, Bondita mengatakan pada Bibinya “Aku bisa tutup mulut jika ada Rasagullas didalamnya”. Bibinya meminta agar Bondita diam dan menghentikan bicaranya, Bibinya mengatakan “Dia menginginkan Rasagullas dan aku sekarang akan menamparnya.., apa lagi yang kau mau?”. Bondita hanya mentertawakannya. Sumati menghampiri kakak Iparnya dan berkata “Bisakah kita berbicara dangan kepada dingin?”. Bibi mengatakan pada Bondita “Jika kau masih tertawa kau ditakdirkan ..”. Sumanti mengatakan pada kakak iparnya “Ayo pergi Kakak ipar.., Ayo pergi”. Kakak iparnya mengatakan “Ayo pergi” Bibinya pergi bersama dengan Sumanti dan  tetap membiarkan Bondita berdiri terikan di pohon. Bondita mengejeknya “Leher adik perempuan Kalindi bengkok karena ia membungkuk sepanjang waktu, itu benarkan ibu?”.., Bukankah itu alasannya kenapa dia tidak menikah?”. Bibinya kesal dan berbalik berkata “Dia selalu mengatakan sesuatu yang tidak pantas.., aku harus menjelaskan beberapa hal kepadanya!”. Sumanti berkata “Kakak ipar ayo pergi”. Bibinya marah dan kesal “aku muak padanya”.

Sampoorna datang dan bertanya pada Bondita “apakah kau sedang dihukum?”.., mengapa kau harus mempertanyakan pertanyaan seperti itu?”. Bondita bertanya pada Sampoorna “ apakah akau melakukan sesuatu yang salah?”.., apakah orang bertanya akan dihukum?.., apakah kau pernah mendengarkan hal seperti itu?”. Sampoorna mengatakan pada Bondita” kau tidak pernah pergi kesekolah, bagaimana kau bisa belajar menanyakan begitu banyak pertanyaan ?”.  Bondita mengatakan “sapa yang mengajari burung terbang?”. Bondita pergi dan Sampoorna bertanya “Bondita, sampai kapan kau akab berhenti bertanya?”. Sampoorna menariknya, Bondita menjawab “sampai aku mendapatkan semua jawaban “. Sampoorna bertanya pada Bondita “belum adakah jawaban atas semua pertanyaan ini”. Bondita mengatakan “ bukankah ada jawaban untuk semua pertanyaan, dan jika tidak ada maka kau harus menemukannya, ayah ku bisa untuk mengatakan itu”. Sampoorna menutup mulut Bondita”Baiklah, kau ingin memakan ‘Puchka’ (Panipuri)?”. Bondita bertanya “Bagaimana caranya?”. Sampoorna menunjukkan pada Bondita “Aku punya 1sen”. Bondita bertanya pada Sampoorna “Bagiamana kau mendapatkannya?”.., apakah kau mencurinya, katakanlah pada ku1”. Sampoorna mengatakan “Tidak, ayah ku yang telah memberikannya dan memberitahu ku untuk melepaskan mu dan membawa mu untuk keluar sebentar”. Bondita menatap kea rah rumah mereka, saat itu Suamnti sedang berbicara dengan ayah Sampoorna.

Paman Bondita mengatakan pada Sumanti “Jika kau menjawab ya, maka semua kekhawatiran mu tentang Bondita akan terhapuskan”. Bibi / kakak iparnya mengatakan “ kami juga tidak perlu khawatir”. Suamanti menjawab “Tapi.. bagaimana dengan kebahagiannya kakak?”. Ayah Sampoorna menjawab “Ini akan membuatnya bahagia”. Kakak iparnya menjawab “dan itu juga akan membawa kita bahagia”. Ayah Sampoorna menatap istrinya. Kakak Iparnya mengatakan “Bondita akan dinikahkan, bukankah menurut mu kakak mu adalah orang yang baik?”. Kakak ipar bangkit dan menghampiti Sumanti dan berkata kepadanya “Katakan pada ku, sapa yang pernah bertanya pada saudara peremuan yang telah menjanda untuk pendaptnya?”. Sementara itu diluar, Bondita bertanya pada Sampoorna “Mengapa kau harus membawa ku keluar rumah?”.., lalu mengapa semua pintu ditutup?.., Sampoorna apa yang sebenarnya terjadi?”.., mengapa aku harus tidak mengetahuinya?”. Sampoorna menjawab “Bagaimana aku tahu?”. Bondita mengatakan “kalo begitu, mari kita cari tahu”. Bondita begegas pegi dan Sampoorna menyusulnya berkata “kau akan membuat ku dihukum.., tunggu Bondita!”.


Sumati terlihat cemas, kakak ipar perempuannya mengatakan padanya “Seorang janda  tidak diperbolehkan untuk pemujaan ‘Chandal’..,  kau sadar akan hal ini, mertua mu mecampakkan mu dan mengembalikan mu pada kami.., tanggung jawab membawa mu pada Bondita dalam ..”.  Paman  menghentikan pembicaraanya dan berkata “Bondita bisa saja menolaknya.., tapi apakah dia akan menolaknya?”. Suamti terdiam lalu ayah dan ibu Sampoorna saling meanatp satu sama lain. Bibi (Kakak ipar perempuan Sumati) kembali untuk menghampiri Sumanti dan berkata “percayalah pada ku, aku mengatakan hal yang sebenarnya, aku bersumpah pada dewi kali..,  tapi jika bukan karena kita lalu sapakah yang akan mengambil tanggung jawab atas Bondita?”.


Bondita mencari tahu tentang semuanya, ia naik kepunggung temannya untuk sampai di atap, temannya bertanya “berapa banyak lagi?”. Bondita mengatakan “angkat aku sekali lagi.., angkat aku sekali lagi.., apakah kau tidak mempunyai kekutan/ tenaga?”. Bondita merangkak ke atas atap jerami dan  berhasil naik ke atas. Sumati mengatakan pada Kakak ipar perempuannya (ibu Sampoorna) “Bondita masih kecil, umurnya masih 8tahun, apakah ini usia yang cukup untuk menikahkannya?”.., kita harus menunggu beberapa tahun lagi dan kemudian menikahkannya”. Ibu Samoorna marah dan berkata “apakah kau menyuruh kami untuk menunggu sampai bumi ini berakhir?”.., aku ingin tahu kapan kau akan mengerti!.., kita harus menikahkannya tanpa menundanya”. Ibu Sampoorna berkata ketika Sumati bertambah cemas menjadi sangat gelisah dan berfikir “ percikan kecil bisa membakar seluruh hutan”. Ayah Samoorna menegur istrinya “Jaga lidah mu”.., bukankah aku yang akan berbicara dengannya?”. Ibu Sampoorna menjawab “mengapa membuang waktu dengan pembicaraan yang sia-sia?”.., maknai setiap kata-kata ku”..,  percikan ini akan membakar seluruh keluarga kita, tidak aman untuk memberi makan ular berbisa”. Sumanti menatapnya, ibu Sampoorna mengatakan “Sapakah yang akan di hina jika semua orang belajar tentang karakter Bondita?”.., lalu dengan menikahkannya bisa menjadi perkerjaan yang sangat sulit, lalu kemudian dia akan seumur hidup akan terus bergantung pada kita, apakah itu benar?”.

Ayah Sampoorna menegur istrinya “Tidak bisakah kau menjelaskannya dengan sopan?”. Istrinya mengisyartkannya, laliu berkata pada Sumanti “Ini untuk kesejahteraan Bondita.., mereka sudah mengirimkan surat.., coba lihatlah, keluarga ini sangat baik.., keluarga yang kaya dapat dengan mudah menemukan perempuan, Bondita sangat beruntung jika kau setuju dengan hal ini kita akan menikahkan Bondita bersama dengan Sampoorna”. Sementara itu Bondita membuka jerami atap dan mendengar pembicaraan antara Sumanti, paman dan juga bibinta. Bondita berteriak “Penikahan?” lalu Ibu Sampoorna tersentak kaget dan terlihat kesal. Bondita bertanya “Pernikahan.., mengapa kalian ingin aku menikah?”.., aku tidak akan menikah”. Bibinya kesal berkata “ Dewi kali!, dia sangat lincah, dia akan terus melomat keluar dan masuk.., turun”. Bondita menolak permintaan bibinya “Tidak.., Jika aku turun kau akan menikahkan ku”. Bibinya mengatakan “Tunggu,  jika kau tidak mau.., aku akan datang”. Bondita mengatakan “Tidak bibi, kau tidak akan datang”.  Sementara diluar Sampoorna bersama dengan temannya memegangi kaki Bondita, Sampoorna mengatakan dalam kekhawatiranya “Jika ibu keluar, kita pasti akan dihukum”. Sampoorna dan temannya bergegas pergi”. Bibinya berkata “Tunggu.., aku akan datang”. Bondita terplesat, ia berteriak dan terjatuh.  Bibinya berlari dan menghampiri Bondita dan mengomelinya mengatakan “Bondita, tunggu dan lihatlah, aku akan memberikan mu pelajaran!”.

Sumati datang menghampiri anaknya yang masih tergeletak ditanah, Bondita bertanya pada ibunya”Ibu mengapa kau menginginkan aku menikah?”. Sumanti hanya terdiam, Bondita terus bertanya padanya “Katakan pada ku, mengapa kau ingin aku menikah?”.., apakah kau tidak menyukai ku.., katakan pada ku apakah aku perlu menikah?”. Bibinya menariknya dan berkata dengan kasar pada Bondita “Mengapa kau tidak ingin menikah?”. Bondita memeluk Sumanti dan berkata  dengan kepolosannya“Tidak ada yang mau berpisah dengan ibu mereka”. Sumanti mengatakan pada Bondita” Sampoorna juga akan ikut.., setiap orang harus pergi dari tempat ibu mereka”. Bondita mengatakan “Paman belum pergi”.

Bibinya menjawab dengan emosi “Paman mu laki-laki.., bukankah aku datang kesini?”. Bondita mengatakan “jika mau, kau bisa kembali pada ibu mu”. Bibinya tersentak kaget, Sumaanti menenaggkan putrinya “Bondita!”.., sayang ku, meninggalkan tempat ibu adalah tanggung jawab seorang wanita”. Bonita memeluk Sumanti dan bertanya “Apakah meninggalkan ibu merupakan tanggung jawab?”.., apakah kau bisa idup tanpa ku?”.., tidakkah kau akan merindukan ku?. Sumitra hanya terdiam, ibu sampoorna sangat kesal dan menarik dengan kasar Bondita”Dasar gadis pembawa musibah, apakah kau kira kau begitu istimewa?”.., dengarkan aku baik-baik Bondita, seorang ibu tidak bisa tinggal bersama dengan putrinya begitu dia menikah”. Bondita mengatakan “kalau begitu buatlah ibu ku agar menikah.., aku akan pergi dengan ibu ku”. Bondita  memeluk Sumati. Bibinya kehabisan kesabaran ia pergi menjauh berkata “Ya dewa kali!..”.., dengarkan saja dia”.., apakah kau mau menerima dosa pernikahan kembali seorang janda?”.., dia sangat tidak tahu malu!”.., apakah mereka ingin kita menjadi tidak tahu malu?”.., mereka akan mempermalukan keluarga kita, akan lebih baik jika dia menikah, umurnya sudah delapan tahun.., dia sekarang akan berusian 9 tahun, dia tidak akan lagi menjadi anak kecil.., dia akan terus memakan Rasagullas dan menjadi gemuk.. pikirkan hal itu”. Bondita bertanya pada bibinya “apakah kau pikir aku ini gemuk?”.., bukankah ukuran bajumu terus meningkat setiap tahun?”. Bibinya bertambah kesal dan akan memukul Bondita, Paman menghentikannya “Tidak”. Sumanti menghampiri Bondita, Paman berkata “Bondita tidak akan menikah jika dia tidak mau”. Bondita tesenyum senang, paman menggendungnya dan berkata “Lalu bagaimana jika calon suaminya  memiliki  toko manisan yang besar?”.., Rasagullas, sandesh, chom chom.., permen itu disapkan setiap hari disana.., jadi gadis yang akan memasuki keluarga itu akan memakan permen setiap hari.., tapi kau tidak akan melakukannya!”. Paman menunjuk ketasa langit “Ya dewa!... mereka punya rumah yang besar.., maukah kau membawa sekelompok kunci?”. Katakanlah pada ku”.  Bondita bertanya pada pamanya “seperti seikat kunci yang biasa dibawa oleh ibu”. Paman hanya mengangguk , Bondita berkata “bunyi kunci akan terdengar sepanjang hari”.., apakah disana ad ataman?”. Paman menjawab “Iya”. Bondita berkata “ayunan?”. Paman menjawab “ada ayunan”. Bondita berkata “bagaimana dengan pohon manga yang mentah?”. Paman menjawab “ada”.  Bondita menghayal tentang itu semua, dan juga saat memakan Rasagullas”. Mulutnya mangap saat membayangkannya, paman menutupnya dan berkata “ apakah kau bermimpi indah?”.., tapi bagaimana mungkin itu penting untuk mu?”.., bukankah kau tidak akan menikah”.bondita menyetujuinya “aku akan menikah”. Ibu Sampoorna dan sumanti  tersentak kaget, Sampoorna tersenyum senang.

Bondita turun dari pelukan gendongan pamannya berkata “Tapi tidak sekarang”. Wajah bibinya menjadi kesal kembali, Bondita berkata “aku akan menikah  ketika celengan ku menjadi penuh setelah disimpan dengan uang receh”. Paman mencoba untuk kembali merayu Bondita “Rasagullas, , taman, “ Bondita menjawab “aku tidak akan peduli jika aku mendapatkan Rasagullas.., mungkin aku tidak akan mendapatkan taman dan juga pohon manga.., tapi bisakah aku hidup tanpa ibu ku?”.., apakah aku bisa tidur tanpa ibu ku?”.., siapakah yang akan menemani aku dimalam hari?’.., siapakah yang akan memberikan ku cerita sebelum aku tidur?”.

Bibinya kesal melemparkan kain yang sedang ia jahit dan berkata “itu hanyalah alasan untuk tidak menikah.., aku akan memberitau mu.., kau harus menikah!”. Bondita menyetujui “ baik!”.., aku akan menikah, tapi aku akan membawa ibu bersama dengan ku”. Paman berkata pada bondita “kau bisa membawaibu mu, apa kau senang?”. Bondita mengatakan “paman, apa kau berjanji?”. Paman menjawab “aku berjanji”. Bondita berlari menemui sampoorna “aku akan membawa ibu bersama ku”. Sampoorna memeluknya, bondita kembali mempertanyakan kembali untuk meyakinkan hatinya “ paman, apakah kau berjanji?”. Paman mengatakan “aku berjanji”. Sampoorna sangat senang dan berkata pada Bondita “Kita akan menikah bersama!”. Mereka berbagi pelukan.

Sumati bertanya pada Paman Bondita “apakah Bondita akan mendapatkan suami yang baik?”.. apakah dia akan menjaga Bondita?”., Dewa tidak pernah memberikan kesempatan  untuk mendapatkan  cinta dari seorang ayah.., tapi aku berharap Bondita mendapatkan seorang suami  yang selalui mencintainya apapun yang terjadi.., apakah itu jenis suami yang telah kau temukan untuknya?”.

Di New York , seorang pria (Aniruth) sedang berdansa dengan alunan musik klasik didepan para tamu wanita, ia terlihat begitu senang menari bersama dengan wanita bule yang lincah menari di hadapannya., semua orang bertepuk tangan untuk semua yang penari. Seorang pria (Salim) berkata pada Aniruth “Lanjutkan, corak kemerahan yang sesuai dengan penampilannya, rona kemerahan sesuai dengan penampilannya.., orang yang melihat ku sekarang aku akan menjadi miliknya”.., ”terkadang aku iri pada mu”. Aniruth mengatakan “panggil aku Aniruth.., Salim kau tidak perlu memanggil ku ‘ Babumoshay’”. Salim berkata pada Aniruth “beginilah caranya untuk mu memenangkan hati untuk semua orang, lihatlah kau menjadi nomor satu dalam studi.., kau bisa menari dengan sangat indah.., dan kau lebih tampan dari sapapun.., kau baru saja menjadi pengacara, dan kau telah memenangkan medali emas!”. Anirudh mengatakan pada Salim “Itu benar.., tapi…” aku tidak pernah sombong “. Aniruth menyelamatkan teman lainnya yang  akan terjatuh, temannya. Temannya mengucapkan terima kasih pada Aniruth. Aniruth berkata padanya “Jagalah diri mu”. Salim berkata pada Aniruth “Aku bersumpah demi dewa sahabatku.., setiap gadis pada pertemuan ini matanya hanya tertuju pada mu.., tapi kau tidak membawa hubungan apapun untuk selanjutnya”. Aniruth tersenyum dan menghela nafasnya “ Hatiku tidak sedang bersama dengan ku untuk mengambil hubungan lebih lanjut (Hubungan kedepan”. Salim mengatakan pada Aniruth “Ya allah, aku hamper lupa!”.., cinta dalam hidup mu adalah India dan kau membawa fotonya didalam dompet mu, kau tidak boleh menyimpan rahasia pada teman-teman mu.., tolong beritahu aku apa yang istimewa / special dari dia”.

Aniruth hanya tersenyum kemudian mengeluarkan dompet dari saku celana dan membuka dompetnya berkata “sinar matahari pertama”. Ditampilkan seorang gadis sedang tersenyum membelakangi layar, Aniruth mengatakan “ mengingatjan mu pada keindahan yang tidak terbayangkan, sekali saja melihantnya bisa menumbuhkan taman yang penuh dengan bunga.., ketika ia melepaskan rambutnya, sepertinya seolah-olah seikat mutiara jatuh kelantai.., dia memberikan harga tertinggi  untuk merek minuman keras yang mahal .., dia sudah menjadi kebiasaan ku.. dia adalah nafas udara yang dingin.., dia adalah doa dari hati ku, dia seperti air pasang yang menyapu pantai, dia adalah matahari terbit dalam hidup ku.., dia seperti pelangi dalam hidup ku, Saudamini”. Aniruth tersipu malu menutup dompet yang terdapat foto wanita itu dan kemudian beranjak pergi dari kursi, Salim mengatakan “Astagah, kau memiliki badai cinta didalam hati mu, itulah mengapa wanita-wanita ini tidak bisa mengganggu mu, maukah kau menyimpan fotonya untuk diri mu sendiri saja ataukah kau mau menujukkan foto itu kepada ku?”.., sudahkah kau memikirkannya, dia ada di India dank au ada diinggris, akankah cinta mu akan berakhir dengan bahagia?”. Aniruth hanya tersenyum dan berkata pada Salim “Cinta itu seperti emas, kecuali jika melalui banyak kesulitan tidak akan berhasil.., sejauh yang menyangkut tentang kisah cinta, itu tidak akan lengkap, tapi jarak antara kita juga tidak akan kalah.., aku akan membawa Sudamini ke London”. Salim mengatakan “Amin untuk hal itu”.

Seorang pria bule mengganggu wanita bule “Ayolah menari dengan ku!”. Gadis bule itu sangat risih dengan sikapnya yang terus berkata “ayolah!.., Ayolah!”. Anirudh kesal dengan hal itu, Salim meminta pada Aniruth”jangan berkelahi dengan mereka”. Aniruth bergegsa pergi dan menjauhkan pria bule itu dari wanita bule dan berkata kapdanya “apakah kau ingin berdansa?”.., Ayolah!.., menarilah dengan ku”.., Mari kita lihat seberapa pandainya kau bisa menari”. Aniruth memegang tangannya, pria bule itu kesal “lepaskan tangan ku”. Aniruth mengatakan pada pria bule “Bukankah kau ingin belajar tentang bagaimana pria menari?”. Anirut mencengkram wajah pria bule, Aniruth memutar-mutar pria itu seperti gerakan menari, dan kemudian pria bule itu terjatuh dihadapan wanita yang diganggunya, semua orang bertepuk tangan.

Ketika Anirudh dan Salim akan pergi, pria bule itu berkata “Berhentilah.., dasar orang India!”.., beraninya kau tidak hormat dinegara ku”. Anirudh mengatakan pada pria bule itu “kau juga bisa mendapatkan sedekah jika kau memintanya dengan sopan, dan aku orang India itulah mengapa aku tidak tahu bagaimana menghormati orang lain…, tapi aku tahu bagaimana mengajarkan orang bagiamana cara menghormati orang lain”. Ketika pria bule akan memukul Anirudh, Anirudh menahan tangannya dan berkata padanya “Mungkin kau tidak tahu apa-apa tentang orang India seperti kami.., mungkin kami telah menemukan nol.., tapi jika  kau memberikan kami Rasa hormat  maka kami akan memberikan mu rasa hormat itu dua kali lipat, karena kami menhormati wanita!”.., kami tidak memaksa mereka untuk melakukan apapun  yang kami inginkan”.

Pria bule itu kesal pada Anirudh dan berkata “Dia mengajari ku tentang bagaimana cara menghormati wanita?”.., Ayah ku adalah seorang pria di East India Company, dan aku telah menghabiskan seluruh masa kecil ku di India.., aku tahu tahu segalanya tentang Negara budak itu.., mereka meminta kami untuk kebebasan bahkan sampai hari ini.., tapi mereka tidak memperlakukan  wanita mereka sebagai budak, dan satu hal lagi bahwa mereka tidak memberikan pada wanita mereka tantang rasa hormat.., dan tuan pengacara, beraninya kau berbicara tentang memaksa seorang wanita!”.., sedangkan bangsa tempat asal mu  bahkan sampai hari ini memaksa wanita.., mereka di nodai/ dicemari secara paksa.., mereka dibakar dengan paksa ketika suami mereka telah meninggal, mereka dipaksa untuk dijadikan seorang janda dan dicabut paksa semua hak hidup mereka.., lihatlah para wanita disini, mereka sangat terpelajar.., mereka tahu hak mereka, mereka bisa memanfaatkannya, tapi di Negara mu .. apakah wanita memilik hak?”. Anirudh hanya terdiam menatapnya, Pria bule mengatakan pada Anirudh “Sebaliknya, sebelum mereka tumbuh dewasa kau bisa mendapatkan gadis kecil  usia 8 – 10 tahun  untuk menikah .., dan apakah gadis-gadis itu  punya hak untuk menolaknya?”.., mereka juga  tidak memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan  atau hak untuk berbicara, hewan diperlakukan hormat dari pada wanita dan ya kau benar jika Negara mu memberikan nol kepada dunia, tapi dalam arti yang sebenarnya, Negara mu memberikan nol terbesar untuk wanita di negaranya.., jadi tuan Aniruth Roy Chaudhary dari pada kau mencoba menjadi pahlawan di London cobalah kau menjadi pelindung wanita di Negara mu, India”, kembalilah ke India dan belilah kehormatan dan hak wanita pengacara terhebat tuan Aniruth Roy Chaudhry tidak akan bias melakukannya bahkan karena dia orang India, dia pengecut!”. Aniruth tersentak kaget dan hanya terdiam. Pria bule berkata “Apakah kau mendengar aku, kau pengecut, jika tidak kembalilah kau ke India dan hadapilah kebenaran, apakah kau mengerti?”.., tuan pengecut?”. Aniruth meneteskan air matanya dan menatapnya.


Anirudh Pulang ke India dengan menggunakan kapal laut, ia turun dari kapal laut kemudian seorang pria tuadatang menemuinya untuk menawarkan tumpangan “salam pak”..,  apakah kau ingin tumpangan?”.., pak kau ingin kemana?”. Anirudh hanya terdiam ia masih tampak bingung, Pria tua bertanya kembali “Pak kau mau pergi kemana?”. Aniruth menjawab “Tulsipur”. Pria tua mengatakan “Biarkan aku membawa mu”.., berikan ini pada ku”.., silahkan ikut bersama ku”. Anirudh pergi menggunakan kereta kuda dan pria tua mengantarnya. Sepanjang perjalanan Aniruth gelisah ketika mengingat semua ucapan yang telah disampikan pria bule padanya.

Tiba-tiba saja pria tua meminta kusir untuk menghentikan perjalanannya karena benda klenik menghhambat perjalanan mereka, Pria tua mengatakan “”Berhenti”. Aniruth bertanya padanya”kenapa kita berhenti disini?”. Pria tua mengatakan “Praktik ilmu hitam telah dilakukan disini, kita tidak akan bias untuk lewat dari sini”. Aniruth bertanya padanya “Benda apakah itu?”, ia tutun dan melihatnya dan bertanya “apa masalahnya?”.., apa salahnya untuk menyingkirkannya (mengatasinya)?”. Pria tua mengatakan “Pak benda itu dianggap jahat, jika mata jahat dilemparkan  maka kecelakaan akan terjadi, kita tidak bias lewat dari sini”. Anirut bertanya padanya “jadi  kau tidak mau melewatinya?”. Pria tua ketakutan dan menolaknya “Tidak pak”. Aniruth kesal dan ia memedamkan api diya pada benda klenik itu dan membuat pria tua tersentak kaget, Anirut menurunkan kedua kopernya dan beranjak pergi dari sana, pria tua mencoba untuk menghentikannya “Pak.., kau mau jalan kaki kemana?”.., tempatnya masih sangat jauh, kau tidak akan menemukan tumpangan sejaug bermil-mil”. Anirudh bertanya padanya “Tuan, omong kosong apa yang sedang kau bicarakan?”.., jika kau melewatinya maka mata jahat  akan di arahkan pada mu”.., bukankah gerbong mu akan jatuh kejurang?”. Pria tua memohon “Tidak”Aniruth mengatakan padanya “jika tidak jatuh apa kau akan mendorongnya kebawah?”. Pria tua memoho agar Anirudh tidak berjalan kaki namun Aniruth tidak mau mendengarnya ia menendang benda klenik itu, Anirudh berjalan kaki disepanjang jalan sepi dan gelap dengan membawa kedua kopernya.


 


 


 


 


 

Comments