BARRISTER BABU 12 FEBRUARI 2020 EPISODE 2
BARRISTER BABU 12 FEBRUARI 2020 EPISODE 2
INTERPRETASI SINOPSIS BY MADE TITIS MAERANI, S.Pd
DESKRIPSI FILM :
Sebelum memulai praktiknya sebagai pengacara di London, Anirudh memutuskan untuk beristirahat dan berkunjung ke rumahnya. Namun, pamannya, seorang zamindar, salah paham tentang kepulangannya menjadi tinggal permanen dan memutuskan untuk menyerahkan semua tanggung jawabnya kepadanya.
SINOPSIS EPISODE 2
Sumanti sedang duduk menjait di bawah lantai dan memanggil putri kecilnya “Bondita!”..,”Bondita”. Bondita datang menemui ibunya dengan membawa botol ditangannya. Sumati kesal bertanya padanya “apa yang kau bawa itu?”. Bondita menjawab “Ini botol minyak, apakah kau tidak menyadarinya?”. Sumati kesal dan menjewer telinganya berkata “kau perlu memasukkanya sebagian ke telinga mu, aku sudah memanggil mu sejak tadi/ lama, apakah kau tidak mendengarkan ku?”. Bondita mengatakan pada ibunya “Jika aku menaruh/ mengoleskan minyak ketelinga aku akan memiliki rambut yang akan keluar dari sana.., aku akan terlihat seperti beruang!”.., maka kau tidak akan mengatakan ‘khup bhaalo’ (sangat bagus)” dan kau akan memanggil ku beruang berbulu!”. Suamanti hanya tertunduk menahan senyumnya, Bondita mengatakan “Biarkan aku mengoleskannya sedikit”. Bondita terdiam menatap ibunya yang menitihkan air mata dan bertanya “Kenapa kau menangis?”.., aku belum mengoleskan minyaknya.., apakah rasanya seperti terbakar?”. Sumanti menjawab “aku yang akan menanggung jika minyak itu membakar ku, apa yang dapat ku lakukan jika hati ku sakit?”.., kecuali hanya melepaskan”.., aku tidak ingin mengatakannya lagi”. Bondita bertanya pada Sumati “apakah kay takut pada sesorang?”. Sumanti terkejut, Bondita mengatakan pada Sumanti “Jika kita mengoleskan minyaknya sekarang maka rambut mu akan tumbuh kembali saat kau bersama ku dirumah mertua ku nanti”.., dirumah mertua ku tidak akan ada yang berani untuk memarahi nyonya rumah!”. Sumati mengusap air matanya dan tersenyum, ia mengecup kening Bondita dengan penuh kasih sayang. Suamati mengatakan pada Bondita “dengarkanlah aku Bondita.., pernikahan akan segera datang.., kau harus memahami satu hal sayang ku.., setelah pernikahan setiap gadis harus menyerahkan semua yang dia sayangi dan pergi kesana sendirian.., dai harus menerima semua cara dan tardisi di rumah mertuanya”.., kau juga akan dan harus meninggalkan ku, sayang ku.., itu sudah selesai”. Bondita bertanya pada Sumanti “bagaimana jika aku tidak mau mererima hal yang telah lakukan?”. Suumati menjawab “apakah kau mau disebut sebagai orang yang berdosa?”.., semua gadis harus melakukannya, maukan kau menyesuaikan diri dan menerimanya sesuai dengan tradisi ?”. Bondita mengatakan “apa itu termasuk tadiri untuk memotong rambut?”.., tardisi untuk memakai pakaian/ baju berwarna putih?”.., apakah itu juga tardisi yang bagus?”. Sumati menutup mulutnya “Suut”. Ia melihat sekelilingnya berkata pada Bondita “aku harap tidak ada yang mendengarkan mu, jangan katakana itu..,sayang”, Bondita bertanya “Jadi bagaiaman jika mereka mendengarkan ku?”. Sumanti bertanya “apakah kau tidak mencintai ku?”. Bondita mengatakan pada Sumati “kalau begitu menurut mu siapa yang paling aku cintai?”.
Sumanti bertanya pada Bondita “kalau begitu beriatahu pada ku.., apakah kau akan mematuhi tardisi dirumah mertua mu?”.., jangan membuat suami mu marah karena kau tidak mematuhinya”. Bomdita tersenyum dan ia melakukan sesuatu yang tidak terduga, ia mengambil selembar kertas dan berkata “bagaimana jika suami ku yang akan merubah tadisi?”. Bondita berlari keluar dan tidak mendengarkan ketika ibunya memanggilnya “Bondita kau mau kemana?”.
Anirudh berjalan kaki dan sampai disebuah perkampungan. Seorang pria menunggangi pedati bertanya padanya “Pak, kau mau kemana?”. Anirudh menjawab “Tulsipur”. Pria penunggang pedati mengatakan “Itu juga tujuan ku.., aku bisa mengantarkan mu kesana”. Anirudh naik ke keretanya dan menaikan barang, pedati melewati perkampungan dan Anirudh melihat orang yang sedang berlalulalang dan para janda mengenakan pakian putih disana.
Dirumah Roy Chodhry, seorang anak ( Somnath) mengatakan pada anak lainnya “pastikan semuanya telah disiapkan dengan benar”.., kita tidak boleh membiarkan paman dan juga ayah bertengkar”.., “Mereka pasti akan bertarung”. Seorang gadis (Saudamini) berjalan masuk kedalam rumah mereka dan tersenyum menghampiri mereka, Somnath menyambut kedatangannya berkata pada Mini “Ku mohon .., jangan katakana itu saudara ipar Saudamini!”. Sudamini tertunduk malu “Oh!”. Saudamini berkata “aku masih belum penjadi adik ipar mu”. Anak yang paling besar berkata “Kau pasti akan menjadi adik ipar ku, itu tidak akan bisa untuk di hindari”.
Anak yang paling kecil (Batuk) berkata “Mungkin dia tidak akan kembali kerumah untuk orang lain, tapi Andirudh pasti hanya kembali untuk Saudamini”.., Baik..”. Sadamini meminta agar ia melanjutkan ucapannya, anak itu berkata “Kemarin aku mengatakan hal itu pada paman”. Saudamini tertawa gembira berkata “aku telah menunggunya saat itu.., aku ingin tahu kapan dia akan ikut dengan ku!”.., aku bertanya-tanya kapan foto ku akan pergi dari hatinya menuju pada visi/ tujuan yang bisa dilihat!”. Somnath berkata “Hebat!”.., lihatlah dia persis seperti itu, dia pasti akan segera datang”. Sudamini berakta “sampai kau datang, kau bisa menutup telepon dan tersenyum, Anirudh!”. Somnath mengatakan pada Saudamini”aku tidak tahu apapun tentang Anirudh”.., tapi kali ini paman dan juga ayah tidak akan bertengkar”.., saudara kembar akan merayakan ulang tahun mereka dengan damai”. Saudamini mengatakan “akankah prinsip hidup dan biarkan tetap hidup diantara ayah dan paman”. Anak yang paling besar menjawab “Iya, tapi kali ini, kami telah memastikan semuanya sudah di urus”. Ia berjalan keluar dan bertanya “Itu benarkan Bihari?”.. Apakah semuanya sudah siap?”. Bihari berkata “Semuanya sudah siap Tuan Somnath”. Somnath berkata “Baiklah”. Somnath berkata “sama seperti ayah, pesta ulang tahunnya selalu bergaya barat”.., ayah kami seorang pria dari luar negeri dan dekorasinya mencerminkan hal itu”.., makanan dan minumannya semua di impor, tapi sebelum pestanya bergaya barat.., idealis kita paman Trilochan yang dibudayakan dan dibesarkan murni di India akan disambut dengan aarti tradisonal, itu benarkan paman Bihari?”. Bihari sedang menyiapkan semuanya berkata “Iya, lihatlah ini”.., nasi untuk upacara, vermillon (sindur), nasi dan kelapa yaa dan kapas disampingnya”. Somnath berkata dengan terkejut “Kapas?”.., untuk dipringnya?”. Paman Bihari mengatakan “Tidak, tuan Somnath”.., ini untuk ditancapkan (diselipkan) ditelinga jika sesuatu hilang maka kau bisa menggunakan kapas dan kemudian menutup telinga mu, maka kau tidak akan mendengarkan suara perekelahian apapun”. Saudamini tertawa senang.
Bondita sedang mengikat teman-temannya di pohon besar, Bondita mentertawakan mereka dan bertanya “maukah kau melakukan sesuatu untuk ku?”. Temannya mengatakan “tidak bisakah kau membantu diri mu sendiri?”. Baondita berjalan menghampirinya dan bertanya padanya “apakah kau suka diikat di pohon?”. Bondita akan pergi dan teman lainnya yang juga terikat dipohon mengetikan Bondita Tunggu!”.., kami akan melakukan segalanya untuk mu”. Bondita memegang tenggorokannya dan berkata padanya “besumpahlah demi ibu mu”. Anak itu mengambil sumpah dengan memegang tenggorkannya berkata pada Bondita “Aku besumpah demi ibu ku”, ia bertanya pada Bondita “apa yang harus aku lakukan?”. Bodnita mengatakan “aku harap kau tahu bagaiamana caranya menulis surat”. Temannya hanya mengangguk menatap teman yang lainnya berkata “baiklah”. Bondita mengambil kertas dan juga alat tulis dan memanggil teman lainnya yang pada saat itu tidak diikat “kemarilah”. Anak itu datang dan Bondita meminta padanya untuk membungkuk. Bondita menjadikan punggung anak itu sebagai meja dan meletakkan kertas di punggungnya dan berkata pada temannya “Mulailah menulis!”..”Calon suami ku”… temannya kebingungan dengan dengan maksud Bondita saat itu dan bertanya “Apa?”.
Bondita bertanya padanya “apakah aku terkesan tidak tahu malu?”. Anak itu menuliskan apa yang Bondita ucapkan “Apakah aku kedengarannya memalukan?”. Bondita kesal dengannya dan berkata “Kau seharusnya tidak perlu menulisnya”.., kau murid paling buruk!”. Anak itu menuliskan “penipu .., kau seperti”. Bondita kesal memegang keniongnya dan menahan kekesalannya dan berkata “lagi.., tulisa saja semua yang telah aku katakana”. Temannya menyetujuinya “baiklah”. Bondita mengatakan “seorang gadis mengorbankan segalanya .., dan memasuki tempat mertuanya demi kebiasaan, apakah itu benar?”.., apakah yang lebih penting tardisi ataukah adat?”.., siapakah yang memperkenalkan kebiasaan ini?”.., apakah kau mengenal orang itu?”.., bisakah kebiasaan itu dirubah?”.., atau tidak atau apakah akan adan yang mengubahnya?”..”aku punya dua syarat untuk menikahi mu “.., pertama aku butuh satu panic penuh rasgullas setiap hari untuk dimakan”. Dan sayarat yang kedua” kau boleh memberikan ku kurangi Rasgullas tapi kau harus membiarkan ibu ku ikut dengan ku ketempat mertua ku, ibu ku tidak memiliki siapapun selain aku, enam bulan yang lalu ayah ku meninggal”. Temannya hanya tediam dan berhenti untuk menulis, Bondita memarahinya dan bertanya padanya “apakah kau ingin diikat dipohon sepanjang hari?”.
Bondita melanjutkannya berkata “Ibu ku lebih penting dari pada semua adat istiadat”.., aku tidak bisa membiarkan ibu ku sendirian dan datang kerumah mertua ku”.., jadi apakah kau setuju dengan dua sayarat ku?”.., aku hanya akan menikahi mu jika kau setuju”..”Milik mu…”..”Tidak”.., Bodnita putri ibu ku”. Temannya bertanya “apakah aku harus menambahkan yang lainnya?”. Bondita mengatakan “Alamat”. Temannya yang lain bertanya “apakah kau memilikinya?”. Bodnita datang kehadapannya dan memarahinya “sesorang tidak akan menjadi cerdas hanya dengan belajar”.., “dia akan mengirimkan surat itu kepaman dan surat ini harus memiliki alamat”. Temannya mengatakan “jika kau memiliki alamat kenapa kau tidak pergi?”. Bondita menanyakannya “lalu kenapa kau tidak bisa melepaskan diri mu sendiri dari tali?”. Bondita kembali pada temannya yang sedang menulis dan berkata padanya “Tulis dan dengarkanlah, jangan lupa tambahkan alamat ku jika tidak aku tidak akan menerima surat balasannya, Tuliskan Bondita Das”..,”nama Dasnya adalah “Devipuri.., Distrik Balrampur Saurabghrah”. Bondita mengambil surat itu dan berjalan pergi tanpa berkata apa-apa. Temannya meminta pada Bodnita “lepaskan aku”, namun Bondita sudah berlari pergi membawa surat ditangannya. Bondita berlari sepanjang jalan dengan membawa surat ditangannya dan terciprat lumpur namun Bondita tetap berlari dan beretmu dengan kereta yang ditumpangi Aniruth Bondita meluncur dibawah kereta kuda itu dan Bodnita berkata “Kepala kantor pos!”. Anirudh turun dari kereta itu dan melihat ketika seorang pria sebagai pengantar pos menghentikan sepedanya dan berkata pada Bondita “apa yang terjadi sayang?”. Dengan terengah-engah, Bondita mengatakan dan menyerehkan surat itu padanya “kirimkan surat ini dengan alamat yang benar, aku sudah menuliskan alamatnya, kirimkan ke alamat ini”. Anirudh mendengarkan pembicaraan mereka di kejauhan, Kepala kantor pos bertanya pada Bondita “Sayang ku, apakah ini sangat penting?”. Bondita mengatakan “Bukankah aku akan mengirimkannya kekantor pos jika tidak penting?”.., ini sangatlah penting surat harus sampai kealamat yang benar”.., pertimbangkanlah bahwa surat ini factor penentu dari pernikahan ku, ini sangat penting agar surat ku sampai tepat waktu”. Kepala kantor pos mengatakan dengan penuh kasih sayang “Baiklah sayang”. Kepala kantor pos pun pergi membawa suratnya, Bondita merekahkan senyumannya sementara itu Anirudh Nampak sangat terkejut dan membalikan badannya.
Dirumah Anirudh, semua orang sedang melakukan pemujaan. Pandit ji meminta agar tuan rumah dipanggilkan. Paman Trilochan datang mengatakan “Kau tidak perlu memanggil Trilochan Roy Chaudhry untuk tujuan yang benar”. Bihari mengatakan “Inilah dia.., Yamaraj ada disini”.., maksud ku sang penyelenggaranya”. Trilochan melepaskan sandal dan masuk kekuil, mini dan Somnath meminta berkah darinya. Mini mengatakan pada Trilochan “selamat ulang tahun!” . Somnath dan anak yang paling kecil pun menimpali untuk mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Paman Trilochan sangat senang berkata “aku senang menyaksikan nilai-nilai keluarga pada generasi mudanya”.., sikap ketidakpedulian ayah mu..”. Binoy datang memotong pembicaraannya berkata “Ketidaksopanan apa yang sedang kau bicarakan, Trilochan”. Semua orang tampak tegang, Bihari berkata “dia lebih muda..,”. pandit ji ingin tahu dan berkata “Yamraj?”. Bihari mengatakan pada Pandit ji “Tuan rumahnya”.., pandit ji mengapa kau mencoba untuk membunuh ku pada hari ulang tahunnya?”. Bihari beralari dan pergi dari kuil. Binoy melepaskan sepatunya dan masuk kekuil.
Antara Paman Trilochan dan Binoy saling bertatapan mata. Mini datang mengambil piring sesaji dari pandit ji namun Somnath menghentikan dan berkata padanya “apa yang kau lakukan, kakak ipar?”.., kau seharusnya hanya mengambil aarti hanya untuk paman Trilochan”.., ayah tidak menyukai adat istiadat India. Mini tidak mau mendengarkan Somnath dan berjalan menghampiri mereka, dengan penuh rasa cemas Somnath berkata “mereka pasti akan mulai untuk perang”. Binoy menatap mini dan berbalik memalingkan wajahnya, Trilochan mengatakan “aku tiga menit lebih tua dari mu, ku harap kau masih mengingatnya.., aku belum menikah dan aku belum punya anak.., tapi aku menyukai Aniruth, som dan Batuk lebih daripada anak ku sendiri…, kaulah ayah merek”.., tapi apakah aku tidak boleh berhubungan dengan mereka?”.., “kau telah mengirim Anirrudh keluar negeri tanpa persetujuan dari ku.., kau bilang dia anak (putra) mu dan tidak mau mendengarkan ku”.., tapi hari ini ulang tahun kita dan kau harus mematuhi orang tua mu, Binoy!”.., biarkan dia melakukan aarti”. Binoy hanya terdiam dan paman Trilochan meminta padanya. Binoy berbalik dan duduk bersama dengan Trilochan dan Mini melakukan pujaanya pada Trilochan dan Binoy. Binoy hanya terdiam, ia bangkit dan pergi dari sana.
Binoy berkata pada Trilochan “Anirudh anak mu dia sama seperti anak ku.”Kau selalu menuliskan surat dengan penuh emosianal kepadanya setiap bulan dan selalu memaksanya untuk kembali kerumah”. Trilochan berjalan menghampiri Binoy dan berkata padanya”Apakah ini hal yang benar untuk dilakukan?”.., apakah aku sudah melakukan hal yang salah?”.., dia telah meninggalkan warisan keluarga yang begitu besar dan pergi ke inggris “.., hanya untuk melayani inggris!”.., apakah itu hal yang baik untuk dilakukan?”.., aku akan selalu mencoba untuk memanggilnya untuk kembali” Binoy mengatakan “tapi lebih baik dia menjadi pengecara di London”.., dia sudah mengatakan pada ku untuk tidak ingin kembali kerumah”. Sura Anirudh terdengar lantang “Ayah, aku sudah kembali”. Semua orang terkejut dengan kedatangannya, Anirudh berjalan menuju pintu rumah dengan membawa dua koper di tangannya. Sudamini tersenyum senang saat melihat Anirudh ada didepan matanya, Trilocan datang menghmapirinya, ia begitu sangat senang dan menyambut serta memeluk Anirudh.
Trilocan mengatakan pada Anirudh “Kau sudah kembali”. Anirudh tersenyum senang, Trilocan mengatakan “aku tau itu.., aku tahu kau hanya akan mendengarkan aku bukan Binoy”..,”kau telah melakukan hal yang benar!”.., aku senang melihat mu kembali kerumah!”. Binoy bertanya pada Anirudh “Bagaimana kau tiba-tiba kembali kesini dari London?”.., apakah semuanya baik-baik saja?”.., adakah yang perlu kau khawtirkan?”. Anirudh mengatakan pada Binoy “Tidak ayah!”. Trilocan mengatakan pada Binoy “oh!.., ayolah!”.., kenapa kau tidak memberikannya perintah seperti orang inggris Binoy!”. Trilocan mengakan pada Anitudh “Aku memanggil mu keluar dari hati ku dan kau kembali”.., seharusnya kau merayakannya dari pada kau menanyainya!”. Binoy mengatakan “Baiklah!”.., Anirudh bersiaplah untuk pestanya!.., kita nanti akan berbicara tentang bagaimana kau kembali secara tiba-tiba”. Anirudh setuju “Baiklah ayah!". Sudamini tersipu malu ia berlari untuk menyembunyikan dirinya dan Anirudh memperhatikannya, Anirudh menemui Somnath dan saling berpelukan.
Sementara itu, Bibi Mimi sedang mengajari Bondita kecil memakai Sari. Bondita hanya berputar-putar dan bertanya padanya “Apakah kau tidak tahu cara memakai Sari?”.., bukankah ibu mu sudah mengajarkan mu?”. Bondita mengatakan pada bibinya “Kau juga tidak tau bagaimana caranya tersenyum”.., bukankah ibu mu juga mengajari mu?”. Bibi Mimi marah dan kembali mengancam Bondita dan berkata kasar padanya “Jangan kau pedulikan lidah mu!”. Bondita mengatakan “aku akan melakukannya.., tapi aku juga suka untuk membuat kerusakan” karena begitulah aku!”. Bondita hanya memutar-mutarkan tubuhnya dan bibi memarahinya “Dasar gadis kurang ajar, aku akan mengajarkan mu bagaimana memakai sari”.., ayolah berputar”. Namun Bondita mengerjai Bibinya, Bibi bertanya pada Bondita “Kemana kau berputar Bondita!”.., apa yang kau lakukan”. Bondita mencoba untuk membelit bibinya dengan sari yang dipakinya, Bibi menghentikannya dan berkata “Kau tidak akan belajar jika seperti ini!”.. tunggu!.., aku akan memberikan mu pelajaran!”. Bibi menggambil sutill dan akan memukulnya namun Sumati datang dan memeluknya dan berkata pada Bibi (kakak iparnya) “Kau jangan kahwatir”.., hari ini aku akan mengajarkannya”. Bibi kesal dan menahan amarhnya pada Bondita.
Bondita mengadu pada Sumati “Aku sangat kecil dan sari ini sangat panjang lalu bagaimana untuk memakinya?”. Suamti meyakinaknnya “Jangan khawtir sayang ku!”.., aku akan mengajarkan mu cara untuk memakinya, jadi kau dapat dengan mudah memakai sari lebih lama untuk ketiga kalinya dengan mudah”. Bondita berkata “Benarkah?”. Sumati mengatakn pada Bondita “Kau hanya perlu mengingat cerita ini.., setiap kali kau memakai sari peganglah seperti layangan, berputar seolah kau sedang menari .., hitung sampai lima dan kemduain ikatlah dipinggang mu!. Namun ternyata Bondita berfikir hal yang laim, ia memikirkan tentang surat yang telah ia kirimkan “Aku bertanya-tanya kapankah suart ku akan di jawab?”. Tapi tanpa itu haruskah aku menikah tanpa mendapatkan jawaban?”, sementara itu Sumati telah selesai untuk memakai dan mengajarkannya dan memintanya untuk melihatnya “Lihatlah kau sudah selesai untuk memakinya.., berjalanlah sedikit”. Bondita hamper terjatuh dan Sumati menangkapnya “tenanglah.., hati-hati”.., kau akan menikah belajarlah berjalan dengan hati-hati”.., kau tidak ditakdirkan untuk terbang”. Bondita bertanya “kenapa tidak?”.., apakah tidak ada cara untuk membuat wanita yang sudah menikah untuk terbang?”. Bondita mengatakan “Tapi ini bukanlah cara yang benar”. Sumanti. mengatakan “Ini akan tetap menjadi tradisi”. Bondita bertanya “Ibu, apakah itu perlu?” untuk mengikiti beberapa tadisi tua?”. Sumati hanya tersenyum menatap Boondita yang masih berkeluh kesah dengannya. Bondita berkata”Bisakah kita merubah cara lama kita?”. Sumati mengatakan pada Bondita “Siapakah yang akan merubah tradisi untuk kita?”. Dengan polos Bondita berkata “Aku akan memiliki suami!”. Sumanti hanya tertawa dan berkata “Kau sangat konyol!” lalu mengecup dahinya dengan penuh kasih sayang.
Anirudh sedang menyisir rambutnya dan bercermin sementara itu Sudamini berdiri diatas teras membawa teropong emas, ia tersenyum senang saat melihat Anirudh sedang menyisir rambutnya, Anirudh menyadari kehadiran mini karena bayangannya terpantul di cermin. Anirudh menyemprotkan parfum ketubuhnya dan tersenyum, kemudian Mini kehilangan Anirudh yang sengaja mengumpat.
Sudamini mencari keberadaan Anirudh namun pria yang dicarinyasedang berdiri di belakangnya tanpa ia sadari, Anirudh melepaskan ikat Rambut Sudamini. Sudamini tersipu malu dan berlari, Anirudh menghampirinya dan mengatakan “Tidak baiik diam-diam menatap pria tampan”. Sudamini dengang terbata-bata mengatakan “untuk merapikan rambut wanita cantik juga bukanlah hal yang baik untuk dilakukan. Anirudh memegang tangan Mini, Anirudh mengatakan “Rambut mu akan terlihat lebih baik tanpa diikat”. Sudamini bertanya “Itu menurut siapa?”. Anirudh bertanya kembali “Menurt mu siapa?”. Sudamini mengatakan “Mana aku tahu?”, mereka berdua tertawa. Sudamini mengatakan pada Anirudh “Yang kau katakana ditelepon benar bahwa kau akan kembali dari London”.., tapi kau tidak mau memberitahu pada ku mengapa kau pulang?”. Anirudh mengingat ucapan pria bule yang mengolok-olok dirinya dan memberi fakta tentang negaranya. Anidrudh menjawab “aku punya sesuatu yang sangat istimewa untuk dilakukan.., tapi yang perlu kau ketahui adalah ini tidak akan bisa dilakukan tanpa mu”. Aniudh mengulurkan tangannya dan bertanya pada Sudamini “maukah kau mendukung ku?”. Sudamini meras sangat gerogi saat Anirudh menggenggam tangannya dan bertanya “mengapa kau selalu berbicara selalu penuh dengan teka teki?”.., mengapa kau tidak berbicara dengan istilah yang jelas?”.., apa yang kau inginkan?”. Aniruth menjawab “perubahan”. Mereka saling bertatapan namun seorang anak kecil (Batuk) datang berlari menarik doti seroang pria tua (paman munshi), Anirudh meminta pada Batuk untuk menghentikannya. Paman Munshi meminta agar Batuk menghentikannya karena Dothi yang ia kenakan akan terlepas, Anirudh mengatakan pada Batuk “berhentilah untuk menarik Dothi paman Munshi”. Batuk mengatakan “aku akan mengalahkan mu”. Anirudh meminta agar Batuk melepaskannya, Batuk berlari dan akhirnya melepaskan dothi paman Munshi. Paman Munshi mengatakan pada Anirudh” semua orang telah menunggunya untuk perayaan, aku datang untuk memberitahu mu”. Paman Munshi kemudian pergi. Anirudh tersenyum menatap Mini dan kemudian ia bergegas pergi meninggalkan Sudamini yang masih tersipu malu dan mengira jika Anirudh akan membawakan perubahan dalam hubungan mereka dan akan menjadikannya sebagai seorang istri sekaligus sebagai teman dan jika itu memang benar maka mini akan siap untuk mendukung Anirudh.
Bondita mengatakan “aku harus menanyakannya pada tukang pos”.., izinkan aku untuk mencari tahu kapankah aku menerima suart balasan ku”. Bodnita bergegas pergi dengan mengenakan sari, namun Bibi Mami sengaja menjatuhkan kayu dan memelototinya dan bertanya padanya “Kemana kau akan pergi?”.., dasar burung merpati”. Bondita menegaskan pada bibinya “seekor monyet, bukankah sebelumnya kau memanggil aku monyet”.., jadi bagaimana bisa sekarang aku menjadi seekor burung merpati?”. Bibi Mimi mengatakan “Kau telah menumbuhkan sayap jadi karena itulah enatah itu dari ekor monyet yang terpelintir atau dari mencabut burung bulu merpati” dan aku tau cara untuk melakukan keduanya”.., cukup sudah omong kosong mu!”.., sekarang kau hanya akan keluar rumah hanya setelah kau menikah”.., jika kau mencoba untuk melangkah keluar sebelum hal itu terjadi maka aku akan mencambuk mu”.. mengerti?”. Bibi Mami menarik Bondita dengan sangat kasar “Ayo”. bIbi Mami Membawa masuk Bondita kedalam rumah dengan paksa dan mengancam “Jika kau keluar dari rumah maka aku tidak akan mengampuni mu!”. Bondita bertanya-tanya “sekarang bagaimana aku mengatahui tentang surat itu?”.., bagaimana aku bisa keluar dari rumah ini?”.
Dirumah Anirudh pesta penyambuatan Anirudh sedang dilakukan, banyak tamu yang diundang tamu bule, Batuk tersenyum memandang pemain piono bule yang cantik, semua orang bertepuk tangan untuk alunan musik indah yang dibawakannya. Sementara itu Paman Trilocan dengan memeprsiapkan pesta sendiri dengan menyambut tamu India. Binoy mengatakan pada ayah Sudamini “sebelum mulai perakteknya di hukum London, Anirudh telah datang selama beberapa hari untuk beretamu semua orang”.., Tuan Bhomik, aku telah membaca dokumen pabrik alcohol mu .., bagaimana jika kau ingin kami menjadi mitra dalam pabrik mu?”. Tuan Bhomik menjawab tawaran Binoy “Bagaimana aku bisa menolak mu?”.., Sudamini putri ku tapi dia menganggap jika rumah mu sebagai rumahnya”. Binoy tertawa dan berkata “kau menganggap putra ku sebagai putra mu”. Tuan Bhomik bertanya pada Binoy “Tapi dimanakah Anirudh?”. Anirudh sedang tersenyum dikejauhan dengan berpakian rapi dan menyapa Saurabh, Saurabh datang dan bertanya pada Anirudh “Tuan apakah aku telah melakukan sesuatu yang salah ?”. anirudh menjawab “kau telah membuat kesalahan besar dan kau akan dihukum karena hal itu!”. Saurabh bingung “Hukuman?”.
Anirudh meminta agar Saurabh mengulurkan tangannya dan kemudian berkata “ulurkan dan kemudian peluklah teman mu ini”. Anirudh tertawa dan memeluknya.anirudh bertanya pada Saurabh (Bhopu) “mengapa kau memanggil ku tuan Anirudh?”. Anirudh bertanya pendapat pada paman Munshi untuk memberitahunya tentang sesuatu. Paman Munshi datang dan Anirudh berkata “aku tahu tentang Bhopu lainnya.., lalu siapakah Bhopu ini?”. Anirudh memeluknya sekali lagi, namun paman Trilochan memberitahunya “Dia seorang pelayan”.., sesorang yang belum dewasa dimasa kecilnya sejak dewasa, dia tahu itu sekarang.., dia mengerti bahwa kau adalah tuan rumah”. Anirudh terkejut, paman Tilocan mengatakan pada semua orang “ kalian semua tahu bahwa ini hari ulang tahun ku”.., tapi yang sebenarnya ini adalah hari kelahiran Anirudh, putra tertua dari keluarga roy Chaudhry”.., dia telah menolak untuk menolak belajar di London”.., dan dia datang kesini untuk mengelola properti tanah kami”.., untuk menjadi tuan”. Trilohan memanggil pelayannya bihari untuk mengantarkan bebrapa blok kunci dan berkata pada Aniruth”ambilah, itu milik mu”. Binoy hanya terdiam dan Anirudh terkejut.
Comments
Post a Comment