BARRISTER BABU 13 FEBRUARY 2020 EPISODE 3

BARRISTER BABU  13 FEBRUARY 2020 EPISODE 3

INTERPETASI SINOPSIS BY MADE TITIS MAERANI S. Pd

 

DESKRIPSI FILM :

Saat Anirudh akan mengungkapkan mengapa dia kembali ke India, keributan di luar pesta mengganggunya. Saat Somnath memukuli seorang lelaki tua karena meminum air yang disimpan untuk kasta yang lebih tinggi, Anirudh menghentikannya dan marah pada ketidaksetaraan sosial.

 

SINOPSIS EPISODE 3


Paman Trilochan mengatakan pada seluruh tamu undangan tentang Anirudh”Kalian semua tau, hari ini ulang tahun ku, tapi faktanya hari ini adalah pewaris Roy Chaudhry telah lahir pada hari ini.., Dia telah berhenti untuk menjadi pengacara di Londan dan kembali kesini untuk menangani tuan tanah”. Bihari datang membawakan nampan dan kemudian paman Trilochan menyerahkan beberapa kunci pada Anirudh “Ini Anirudh.., sekarang tuan tanah telah menjadi milik mu”. Trilochan mempercayakan semua pada Anirud, Binoy bertanya pada Trilochan “apa yang harus dilakukan Anirudh.., aku tahu akan hal itu”. Binoy memanggil pelayannya bernama Dan yang membawakan seluruh arsip dan kemudian menyerahkannya pada Anirudh “Anirudh ambilah ini”.., dokumen untuk firma/ badan hokum, dari hari ini kantor seluas 2.000 m2 akan menjadi milik Anirudh dan itu juga berada di London”. Anirudh terlihat bingung dan berkata pada Binoy “Ayah!”. Binoy menyerahkan semua berkas dokumen penting itu berkata “Anirudh”. Semua tamu undangan meyaksikan semuanya, Tuan Bhomik mengatakan pada Sudamini (putrinya) “Bukankah Anidudh telah memberitahu pada mu bahwa kedatangannya kesini tiba-tiba?”. Sudamini menjawab “aku tahu akan hal itu”.., sekarang semua orang juga akan tahu mengapa dia kembali”.

Paman Trilochan berkata pada Anirudh “Jika kau peduli sedikit saja untuk ku.., lalu kau akan merobek kertas-kertas itu dan sekaligus membakarnya”. Anidrudh dan Binoy tersentak kaget mendengarnya. Paman Trilocan mengatakan “Ingatlah bahwa kau berasal dari keluarga Roy Chaudhry”…, kau hanya memberikan perintah dan kau tidak akan mematuhinya”. Binoy kesal dan menghentikan Trilocan “Sudah cukup kakak”.., cukup!”.., masa depan Anirudh hanya untuk tetap berada di London”. Trilochan memprotes Binoy dan berkata “Masa depan?”.., keluarga.., tanah miliknya dan semua miliknya hanya ada disini”. Trilochan mengatakan “Anirudh..,  kau hanya akan menjadi tuan tanah”. Binoy tetap mengatakan kehendaknya pada Anirudh “Tidak kau harus tetap menjadi pengacara  di London, Anirudh”. Tilochan mengatakan “Anirudh.., kau harus menjadi tuan tanah”. Binoy kembali berdebat dengan Trilocan “Kakak, kataku dia akan tetap menjadi seorang pengacara di London!”. Trilochan mengatakan “Anirudh.., kau akan…. Anirudh merasa bingung ia berusaha berbicara namun Binoy mengatakan pada Trilochan “Aku telah mengatakannya!”. Anirudh meminta kepada mereka berdua “Tolong berhenti berkelahi”.., kalian berdua bisa mengajukan kliam pada ku.., Tapi bagaimanakah dengan hak ku?”.., untuk diri ku sendiri?”.., tidak bisakah(tidak bolehkah) aku membuat keputusan untuk diri ku sendiri tentang apa yang ingin aku lakukan?”. Anirudh mengatakan pada Trilocan “Paman.., aku datang kesini bukanlah untuk mengurus perkebunan ataupun menjadi tuan tanah”. Binoy tersenyum puas dan kemudian Anirudh mengembalikan kunci pada Trilocan. Anirudh mengatakan pada Binoy “ayah.., aku juga tidak akan menjadi pengacara di London” dan mengembalikan dokumen surat pada Binoy. Binoy dan Trilocan bertanya pada Anirudh “Lalu kenapa kau ada disini?”. Anirudh terdiam dan menghela nafasnya.

Dirumah Bondita, Sumati sedang membereskan semua barang-barang putri kecilnya. Bondita berfikir “aku masih belum mendapatkan balasan surat yang ku kirimkan”. Bondita bertanya pada Sumati”Ibu bukankah ini akan sangat menyenangkan?”.., jika tukang pos punya sayap?”.., dia akan menyampaikan surat dalam waktu yang singkat?”. Bibi Mami yang hanya emosian bertanya pada Bondita “Kenapa?”.. pesan apa yang kau harapkan?”. Bondita bingung untuk menjawab berkata “sebenarnya…, aku mengirimkan surat pada dewi Durga”. Bibi Mami kebingungan dengan jawaban Bondita “untuk dewi Durga?”.., kenapa kau mengirimkan surat kepadanya?”. Bodnita mengatakan “bukankah kau sangat merindukannya?”.., lalu aku menuliskan surat kepadanya dan mengatakan bahwa dia harus datang untuk menemui mu atau memanggil mu padanya”. Bibi mami kesal dan meminta pada Bondita “Cukup!”. Sumati menutup mulut Bondita “suuuttt”, dan mengatakan pada Bibi Mami “Kakak ipar, dia tidak serius!” dan meminta agar Bondita tidak berisik.

Sumanti menunjukkan patung Dewi Durga pada Bondita berkata “Lihatlah patung dewi durga ini”.., ketika kau membutuhkan ku dirumah mertua mu, kau bisa berbicara dengannya”. Bondita bertanya pada Sumati “Mengapa aku harus memberitahunya?”. Sumanti menjawab “kerena dia adalah seorang dewi”. Bondita bertanya “ibu, apa yang akan dewa lakukan?”. Sumanti menjawab “dewa akan menjaga kita, saat kita tertidur mereka tetap menjaga”.., saat kita sedih mereka akan membuat kita tersenyum.., saat kita jatuh mereka mambantu kita untuk bangkit”. Bondita mengatakan pada Sumati “kau juga selalu melakukan hal yang sama”.., apakah kau juga dewa?”. Bondita mengatakan pada Sumanti “ayolah ibu, lakukanlah sesuatu.., kau juga harus memberikan patung dewi durga ini pada Sampoorna”.. karena ibu ku akan selalu bersama ku!”.

Bondita mengatakan pada Bibi Mami”Bibi, aku juga menyarankan agar kau pergi kerumah mertua bersama dengannya”. Sampoorna bertanya pada Bondita “kenapa ibu harus ikut dengan ku?”. Bibi mami dengan kesewotannya mengatakan “Sampoorna tahu sapa  yang akan merawat ayahnya.., tapi kau tidak punya ayah kau tidak akan mengerti hal itu”. Bondita menjawab “aku mengerti segalanya”. Bibi mami kesal namun Sumati menggelengkan kepalanya untuk meminta Bondita diam, ia berfikir “aku hanya tidak mengerti bagaimana cara ku mencari tahu apakah surat ku sampai  kesuami masa depan ku .., bibi mami juga tidak mengijinkan aku untuk keluar dari rumah .., apa yang harus aku lakukan ?”.

Anirudh menagatakan pada Binoy (ayahnya) dan Trilocan (pamannya) “Ayah sekali di London ..”. Namun pemicaraan Anirudh saat itu terhenti ketia ia mendengar suara seorang pria berkata “Jangan pukul aku!”..,”jangan pukul aku”. Semua orang terkejut, namun Anirudh bergegas pergi mencari sumber suara itu. Pria itu meminta agar sesorang menyelamatkan dirinya, diluar Somnath sedang memenanginya, pria itu memohon agar ada orang yang menyelamatkan dirinya. Anirudh terkejut dan ia berlari untuk menghentikan Somnath. Anirudh memohon padanya “Somnath biarkan dia pergi”. Anirudh menahan Somnath saat itu, Anirudh mengatakan “Diam.., apa yang sudah dia lakukan.., kau lupa bahwa dia bukan manusia?”. Andirudh membantunya untuk berdiri “ayo paman!”.. ayo pergi!”. Somnath marah “kendi itu diisi dengana air untuk kasta elit dan dia meminum airnya”. Pria tua menjawab “Jika aku tidak meminumnya maka aku akan mati kehasuan”. Semua orang tersentak kaget. Somnath mengatakan “bukankah itu lebih baik!”.., kau bisa saja mati.., kau seharusnya mati”.., seharusnya kau mati!”. Anidrudh mengnetikannya dan memanggilnya berulang kali “Somnath”.., berdiri kau disana.., berdiri disana!”.., diam!”.

Binoy memerintahkan pelayannya untuk mengusir pria tua itu “Hei, keluarlah!” dan kemudian meminta agar Anirudh melanjutkannya, Dan meminta agar pria tua itu pergi dari rumah tuannya “pergilah dari sini!”.., jangan sampai aku melihat mu ada disini lagi”. Binoy mengatakan “Anirudh, Som”.., kembalilah kepesta dia akan dihukum karena telah meminum air yang telah disiapkan untuk orang-orang dengan kasta yang lebih tinggi”. Anirudh terkejut dan bertanya pada Binoy “ayah, kenapa dia harus di hukum hanya kerena meminum air?”. Binoy menjawab “Ya”. Anirudh mengatakan “hanya untuk air minum?”. Binoy menjawab dengan tegas “Iya!.., dia akan dihukum”. Trilochan kesal dan berkata “bagaimana dengan kata-kata yang kotor dari agama kita?”.., haruskah aku memurnikan tempat ini?”. Trilochan meminta pada Bihari untuk menaburkan Gangjal.., lakukanlah persembahan disini”.., buanglah semua air yang telah disentuhnya”. Anirudh mengatakan pada Trilochan “paman, dia baru saja meminum airnya, lalu kenapa kau memintanya untuk membuang semua airnya?”. Trilochan mengatakan pada Anirudh “orang dengan kasta tinggi tidak akan meminum air yang telah disentuhnya”. Anirtudh bertanya pada Trilochan “paman .., sapakah yang disini berasal dari kasta yang paling tinggi?”. Tilochan menjawab “akulah yang termasuk dalam kasta yang lebih tinggi”.., “Brahmana”. Anirudh terdiam sesaat dan kehabisan kata-kata lalu meminta pada paman Munshi “Kau berasal  dari kasata yang mana?”. Paman Munshi menjawab bahwa dirinya juga berasal dari kasta Brahmana. Aniruth mengatakan “jadi bukankah kau sama dengan kami?”.

Trilochan marah dan memberntak Anirudh “Kau telah menjadi gila setelah menjadi pengacara.., bagaimana Munshi bisa setara dengan kita?”. Anirudah menjawab “Kita brahmana”.., kami termasuk dalam kasta yang lebih tinggi”. Anirudah bertanya pada seorang tamu pria yang juga merupakan undangan “Kau berasal dari kasta yang mana?”. Pria menjawab “Waisya”. Anirudah bertanya kembali “maksud ku dalam klan yang mana?”. Pria lainnya menjawab dengan menunjukkan tangannya “Viashya lebih rendah dari kami kasta kashtriya”. Ketika Bihari lewat diantara mereka, Anirudah mengentikannya dan berkata “Bithari, kau menyentuh semua barang milik kami”.., kita tidak perlu membersihkan rumah ini saat bayangan mu jatuh diatasnya”.., apakah kau juga seorang Brahmana?”. Bihari dengan sedih mengatakan pada Anirudh “Kata-kata mu bisa membunuh ku, Anirudh”.., karena aku tidak termasuk dalam kasta dalam yang lebih tinggi.., bahkan aku tidak memiliki hak untuk berdiri disamping mu”. Bihari membungkukan badannya di hadapan Anidrudh namun Anirudh menolaknya. Anirudh kehabisan kata-kata dan kebingungan dan berkata “begitu banyak kasta dan juga klan disini.., tidak kau merasa sulit untuk mengingat air siapa yang bisa kau minum, makanan yang telah disentuh oleh siapa yang tidak bisa kau makan?”.., “kau bahkan tidak melupakan hal-hal itukan?”.., kau telah membagi semua orang menjadi begitu banyak ras, kasta dan juga klan.., hanya kasta yang terlihat oleh mu saja  dan bukan sebagai manusia”.., “orang asing akan memanfaatkan masalah ini  dan mereka hanya akan mengikuti satu rumusan bagilah dan kuasai”.

Salah seorang bule disana bertanya pada Anirudh dengan semua ucapannya “apa yang sedang kau bicarakan?”.., ayo pergi dari sini”. Ketika pria bule itu beranjak pergi, Binoy mencegahnya mengatakan “Tidak!.., dia tidak bermaksud begitu”. Binoy meminta “Minta maaflah kepada petugas”. Anirudh hanya terdiam saja.

Paman Trilochan mengatakan pada Anirudh “sistem kasta telah berjalan sejak berabad-abad lamanya”. Anirudh berkata “apakah perlu untuk melanjutkan kesalahan yang sudah ada sejak lama, Paman?”. Tilochan mengatakan dengan sangat marah pada Anirudh “Itu perlu…”, Itu sangat penting!”.., Tidak aka nada yang bisa merubah system sosial!”.., tidak seorangpun!”.., baik aku maupun juga kau!”. Anirudh mengatakan pada Trilochan “Bukankah setidaknya kita bisa mencoba untuk merubahnya, paman?”.., karena aku datang untuk mewujudkan perubahan ini”..”Untuk perubahan ini !”. Semua orang terkejut setelah mendengar ucapan Anirudh. Anirudh mengangkat satu kendi besar berisi air dan ia menuangkannya kemulutnya, semua orang disana terlihat kaget dengan sikapnya. Ia menuang satu persatu kendi yang ada disana dan terjatuh tergeletak di lantai. Tilochan menghamprinya ketika Anirudh muntah air.

Sampoorna bertanya pada ibunya “Ibu, apakah kau lupa untuk mengemas perhiasan / ornament ?”. ibu Sampoorna (Bibi Mami ) menjawab “Aku tidak lupa, ayah mu besok akan pergi ketoko emas untuk membawakan emas untuk mu dan Bondita. Bondita dan Sampoorna tersenyum. Bondita menaruh patung dewi durga dan pergi menemui Bibi Mami dan bertanya padanya “Bibi, apakah paman lebih mencintai ku.., atau apakah dia lebih mencintai Sampoorna?”.., lalu untuk siapakah paman membawakan kalung yang besar, untuk ku atau untuk Sampoorna”. Bibi mami menjawab “untuk sampoorna”. Bibi mami terkena pisau dan Bondita bertanya “Bibi apakah kau terluka?”. Bibi mami marah dan meminta Bondita diam. Bibi mami mengatakan pada Bondita “aku akan pergi ke tukang emas untuk memerikas kalungnya”. Bondita mengatakan pada Bibi Mami “Bibi.., kau mengingatkan aku pada sesuatu, apa yang akan terjadi jika preman memperhatikan mu membawa emas?”.., preman sangatlah kejam, jika kau tidak memberikan mereka emas maka mereka akan memotong ..”. bibi mami meminta Bondita kembali untuk diam. Sumati hanya bisa terdiam dan Bibi mami memperhatikannya. Bondita menawarkan pada Bibi Mami “bagaimana jika aku dan Sampoorna ikut dengan mu.., jika kau bilang begitu”.., aku tidak takut pada apapun”. Bibi mami berbicara pada dirinya sendiri “aku tau itu, kau benar.., jika sampoorna dan dia (Bondita) ikut pergi ke tukang emas, maka tiadak akan ada yang curiga jika aku membawa perhiasan(emas)”. Bibi mami mengatakan pada Bondita “dengarkan, kau dan Sampoorna besok tetap harus bersiap.., kita akan pergi ketukang emas”. Bondita tersenyum senang dan berfikir “sekarang aku akan tahu balasan surat ku dan juga calon suami ku”

Keesokan paginya, Anirudh terbangun dari tidurnya. Anirudh datang menemui Sudamini dan berkeluh kesah dengannya berkata “semua orang sangat kesal dengan apa yang telah terjadi dipesta tadi malam”. Sudamini bertanya pada Anirudh “mengapa kau membuat kesal semua orang?”.., jika kau tidak melakukannya, kau bisa pergi dengan ku ke klub dengan penuh percaya diri”. Anirudh tersenyum dan berkata pada Sudamini “aku sudah merngungkapkan perasaan ku dan sekarang aku akan melakukan apa yang aku rasakan”. Sudamini terkesan “kau akan melakukannya?”.., tidak ada yang bisa menghentikan mu”. Anirudh mengatakan pada Sudamini “kau ingin tahu kan kenapa aku kembali kenegara ku?”. Sudamini berfikir “aku tahu.., tapi aku ingin kau mendengarnya dari mu”..,”aku datang untuk mu Mini”. Anirudh mengatakan pada Sudamini “untuk mengubah persepsi, Mini”. Mendengar itu senyum Mini hilang, Anirudh mengatakan lebih lanjut “sekarang seluruh india sedang berperang.., semua orang ingin mengusir kekuasaan Inggris”...,”tapi bukankah itu lebih penting untuk kita mengusir kejahatan sosial dan adat istiadat dari Negara kita ?”. Sudamini hanya terdiam, Anirudh mengatakan “aku datang untuk melakukan perubahan ini”.., untuk menjadi perubahan itu ..”aku tahu..”.., “aku tahu bahwa kau akan mengatakan jalan ini akan sulit, Anirudh”.., tapi sekarang aku telah memilih untuk menghancurkan gunung, aku akan membenturkan kepala ku kebatu, mini”.., aku akan memukul setiap batu”.., aku hanya ingin kau untuk mendukung ku”. Sudamini hanya terdiam, Anirudh bertanya pada Sudamini "Maukah kau mendukung ku, Mini?”. Sudamini kecewa dengan semua perkataan Anirudh dan berfikirr “Kupikir kau akan menikahi ku dan membawa ku keluar negeri" .., tetapi aku bertanya-tanya kenapa kau bisa dirasuki dengan pemikiran untuk mengubah bangsa!”. Sudamini hanya terdiam, Anirudh memanggilnya “Mini”.

Saurabh datang berkata “Tuan Anirudh”. Anirudh bertanya pada Saurabh “dengan buket bunga, apakah mau bertemu dengan tunangan mu di club?”. Saurabh mengatakan “ayolah tuan Anirudh”. Anirudh mengatakan “Saurabh, itu hanyalah Anirudh”. Saurabh mengatakan “Birkanlah”.., bahkan jika aku mau aku tetap tidak akan mengatakannya”.., masalahnya persamaan dalam persahabatan dan bertemu dengan tuanangan hanya bisa dilakukan diluar negeri” .., disini untuk melihat seperti apakah tunangan ku sebelum pernikahan ku itu sebuah keajaiban.., aku harus melakukan sesuatu untuk tuannya”. Anirudh bingung dan bertanya pada Saurabh “apa maksudmu?”. Saurabh tidak menyadari apa yang dibicarakannya “Apa?”. Anirudh berkata “apa katamu?”.., “menguasai?”. Saurabh menjawab “Tidak!”. Anirudh mengatakan “kau berkata  yang akan kau nikahi.., kau belum pernah melihat atau bertemu dengannya”.., apakah kau tidak pernah melihatnya?”. Saurabh menggelengkan kepalanya dan berkata “Tidak”.

Anirudh berkata “apakah kau bisa menghabiskan hidup mu dengan seseorang yang tidak pernah kau kenal?”. Saurabh mengatakan “ayah ku.., ayahnya sebelum dia”.., beginilah cara setiap orang sebelum menikah, Tuan Anirudh.., tradisi tidak akan pernah berubah”. Anirudh berkata “Saurabh.., kau bisa membawa perubahan terbesar dengan ide terkecil”. Saurabh mengatakan “maafkan aku, tuan Anirudh.., tapi aku tidak seberani diri mu”. Sudamini hanya terdiam memperhatikan dan berfikir “mereka yang tidak ingin berubah, mengapa kau mau merubahnya, Anirudh?”.., tidak apa-apa.., begitu kita menikah, aku akan memastikan kau akan melakukan hal ini”. Anirudh mengatakan pada Saurabh “dengarkanlah, kau tidak pernah melihat atau bertemu dengannya.., tapi kau pasti tahu dengan namanyakan?”. Saurabh mengatakan wanita yang akan di nikahkan itu adalah Sampoorna”. Saurabh mengatakan “Namanya Sampoorna”.

Sampoorn, Bibi Mami dan Bondita datang ketempat pengerajin emas, Saat Sampoorna memakai kalung dan memberitahu pada Bondita “Lihatlah, Bondita”.., bukankah kalung ini terlihat bagus untuk ku?”. Bondita hanya menatap kearah lain dengan sangat gelisah, Sampoorna berkata pada Bondita “Apa yang kau lihat?”.., Lihatlah kesini”. Bondita mengatakan “kantor pos”, Sampoorna terkejut dan Bondita memperbaiki alasannya berkata “tidak ada apa-apa”.., kalung ini sangat cantik”. Sampoorna senang berkata “Aku tahu”. Bondita berkata “permata ini sangat bagus, ayo pergi kekantor pos dan tanyakan darimana permata itu berasal”. Sampoorna tertawa dan berkata “Lupakan saja tentang hal itu”. Sampoorna memakikan kalung itu pada Bondita dan mengatakan “apakah kau suka dengan kalung ini?”. Bondita mengatakan  “aku sangat suka menang”. Sampoorna mengatakan pada Bondita “aku bicara tentang kalung ini.., apakah kau menyukainya, kau akan memakinya”. Bibi mami tidak menyukainya dan berkata “kami telah kehilangan kalung itu”. Pengerajin emas berkata dengan spontan “apa?”. Bibi mami mengatakan “Aku tersesat, rasa cinta mereka tidak tertandingi”. Bibi Mami terlihat sangat marah dan menatap Bondita.

Anirudh menyetir mobil dan berkata pada Sudamini “Ini bukanlah tentang menang dan kalah, tapi untuk tidak mencobanya untuk menikahi seseorang yang tidak peranh kau lihat atau kau temui, bukankah hal itu salah, Mini?”. Sudamini mengatakan pada Anirudh “seorang gadis cantik ada disamping mu, tapi kau terus memikirkan orang lain, bukankah hal itu juga salah?”.., ceritakan apakah yang kau rasakan”. Anirudh menjawab “Itulah yang sedang aku rasakan, Mini”.., sungguh menyakitkan jika ini terjadi di Negara kita”. Sudamini marah dan mengatakan pada Anirudh “ayolah, kau mengatakannya seolah kau baru pertama kali mendengarnya, apakah kau lahir di London?”. Anirudh mengatakan “Tidak aku lahir disini, tapi saat itu aku masih kecil (masih anak-anak).., aku pindah kelondon usia ku 10 tahun, dan ketika aku disana aku baru menyadari ada dunia lain.., dimana mereka tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan”.., “setiap orang sama”.., “aku tidak tahu jika mereka bertanya pada Sampoorna apakah dia mau menikah dengannya atau tidak”. Sudamini tertawa. Anirudh kesal dan bertanya “Untuk apa kau tersenyum?”.., apakah aku sedang membuat lelucon?”. Sudamini hanya mentertawakan Anirudh dan mengatakan “bukankah itu memang lelucon?”.., tidak peduli dengan apapun pertanyaannya hanya ada satu jawaban yang akan di berikan pada seorang gadis, iya”. Mini memberikan raket pada Anirudh dan pergi, Anirudh mengatakan pada Sudamini”jadi, maukah kau menikah  dengan siapapun yang ayah mu pilihkan untuk mu dan itu bukan pilihan mu?”. Sudamini menjawab “iya aku akan melakukannya, bukankah pilihan kita sama”. Anirudh terkejut.

Bondita mengatakan “kalung ini sangatlah berat, jika aku memakainya maka leher ku akan pegal”. Bibi mami menyeringai dan berkata “akhirnya sesuatu telah membuatnya menyerah”..., “Sampoorna”.., dia (Bondita) tidak terbiasa untuk memakai yang berat, ambilah darinya”. Bibi mini meminta pada tukang emas untuk mengelurkan emas / perhiasan yang ringan untuk Bondita.

Bondita senang ketika melihat bel sepeda dan ia tersenyum senang, Bondita mengatakan “Sampoorna “. Sampoorna mengatakan “apa?”.., apakah kau akan membuat bibi sibuk?”… aku ingin pergi ke kantor pos”. sampoorna menjawab “apakah untuk di marahi?”. Bondita menjawab “Tidak!”.., aku hanya ingin pergi kekantor pos”. Sampoorna mengatakan pada Bondita “Jika kau pergi tanpa meminta izin maka kau akan di marahi, kenapa kau ingin pergi ke kantor pos?”. Bondita menjawab “aku akan mendapatkan jawaban dari surat ku”. Sampoorna bertanya pada Bondita “surat yang mana?”. Bondita mengatakan “biarkan aku mendapatkan jawabannya dulu, hanya dengan cara begitu aku bisa mengatakannya”.., maukah kau mau menerima beberapa omelan untuk ku?”.., pokoknya, hanya tinggal beberapa hari saja untuk diomeli oleh  bibi”. Sampoorna menyetuju permintaan Bondita “Baik, pergilah”.., aku yang akan menanganinya, tapi sehgeralah kau kembali”.., “Kita akan menikah tidak baik untuk berkeliaran ditempat terbuka”. Bondita tesenyum dan hanya menangguk, Sampoorna memintanya untuk segera pergi”. Bondita segera pergi tanpa sepengetahuan Bibi Mami. Sampoorna berkata “Tunjukkan yang lain untuknya”. Bibi Mami mengatakan “Tunjukan juga sepasang anting yang bagus”. Bondita memanggil tukang pos ketika ia sudah diluar. Bodnita bertanya pada pengantar pos “apakah kau segera memberikan surat untuk calon suami ku?”.., apakah kau melupakan ku?”..tunggu!”. Bondita menghela nafasnya yang ngos-ngosan dan berkata pada tukang pos “mengambil surat ini lebih penting dari pada bernafas”. Tukang Pos mulai mengingat pertemuannya dengan Bondita untuk pertama kalinya dan berkata pada Bondita “Iya.., oh surat itu?”. Bondita mengatakan "Iya". Tukang surat mengatakan pada Bondita “Aku telah menyampaikan surat itu”. Bondita meminta pada tukang pos dan berkata “Baiklah!.., kalau bergitu berikan aku balasan surat ku!”. Tukang pos mengatakan pada Bondita “bagaimana aku mendapatkan balasannya”..,”tugas ku hanyalah mengirimkan surat kekantor pos yang lainnya dan kemudian tukang pos setempat yang akan mengantarkan surat-surat kedaerah itu”. Bondita mengatakan “Bahkan aku tidak tahu siapa dia, jadi bagaimana aku akan mendapatkan balasan surat ku?”.

Tukang pos lainnya datang menemui Anirudh dan berkata “Anirudh, surat untuk mu dari inggris”. Anirudh bingung berkata “Surat!”. Ketika surat itu akan di berikan, Sudamini mengambilnya dan ia berlari pergi, Anirudh mengejarnya. Anirudh berkata “Mini, apa yang kau lakukan berikan surat itu pada ku”. Tukang pos tersenyum namun ia tidak menyadari salah satu surat yang ia bawa terjatuh ditanah, Anirudh mengatakan pada Sudamini “Mini, surat itu untuk ku”. Sudamini mengatakan pada Anirudh “apakah aku ini bukan milik mu, biarkan aku yang memerikasanya.., biarkan aku yang melihat siapakah yang telah menulis surat kepada mu”. Anirudh berkata “Mini, apa ini!”. Sudamini terus mengerjai Anirudh, Anirudh mengejarnya dan berkata “berikan surat itu pada ku”. Dengan rasa penasaran, Sudamini berkata “dari sapa ini?”. Sudamini membacapengirim surat dari Elizabeth dsb. Anirudh merasa putus asa, dan ia terkejut saat melihat surat lainnya milik tukang pos di tanah dan mengambilnya. Sudamini membacakan nama-nama surat itu dan berkata “begitu banyak surat dari wanita!”. Anirudh membuka surat yang terjatuh milik tukang pos.

Bibi Mami mengatakan “Ini benar” dan kemudian ia menyadari ketidakhadiran Bondita lalu bertanya pada Sampoorna “dimanakah Bondita?”. Sampoorna menjawab “Dia (Bondita) pasti ada disuatu tempat, ibu”. Bibi Mami mengatakan “Jika memang benar begitu pasti aku akan melihatnya”. Sampoorna mengatakan pada Bibi Mami”kalau begitu biar aku melihat dimana dia”. Saat Sampoorna akan bangun, ibunya (Bibi Mami) mengnetikannya “Tunggu!”.., aku yang akan melihat apa yang sedang dilakukannya”. Bibi Mami keluar dan melihat Bondita dari kejauhan sedang berbicara dengan tukang pos. Bondita mengatakan pada tukang pos “sekarang bagaimanakah aku akan menikah jika aku tidak mendapatkan balasan?”. Tukang pos bertanya pada Bondita “apa yang  kau tanyakan dalam surat itu, jika kau tidak mendapatkan jawabannya, maka kau tidak akan menikah?”. Bondita menjawab “aku telah mengajukan dua syarat  kepada calon mempelai laki-laki ku”. Tukang pos berkata “apakah itu betul?”. Bibi Mami berjalan menghampiri Bondita.

Bondita berkata pada tukang Pos “aku ingin tahu apakah kondisi ku diterima ataukah tidak, barulah setelah itu aku bisa menikah dengannya”. Bibi Mami terlihat sangat marah mendengarkan pembicaraan mereka. Tukang pos mengatakan “sebagai seroang gadis kau mengajukan syarat untuk menikah!”. Bondita mengatakan “aku harus melakukannya!”.., mungkin saja aku akan atau tidak menilah, tapi aku tidak bisa tanpa ibu ku”.., “berikan aku tumpangan pada sepeda mu dan jatuhkan aku dirumah calon suami ku”.., aku mengatakan bibi ku cerdas  dan dengan demikian membodohinya.., sulit untu melakukannya”. Ketika Bondita akan naik ke boncengan sepeda, Bibi Mami datang dan menurukan Bodnita ia terlihat sangat marah dan menampar Bondita.

Sudamini juga membuang surat yang akan Anirudh baca, Anirudh mengatakan “Mini berikan surat itu pada ku!”. Sudamini mengatakan “ambilah”. Sudamini membaca suarat lainnya dan pergi, Anirudh bertanya padanya “sapa yang mengirimkan suarat itu?”. Sudamini mengatakan "ini ditulis oleh wanita paling bodoh didunia”. Anirudh berkata “apa.., coba berikan pada ku”. Sudamini menolak dan kemudian surat itu terjatuh dikubangan air, Anirudh kesal dan ia mengambil surat itu dan membacanya di depan Sudamini dan ternyata surat itu milik Bondita.

Bondita yang hanya memegangi berkas tamparan dari bibinya , Bibi Mami mengatakan pada Bondita “biarkan aku yang akan menjawab pertanyaan mu.., berani0beraninya kau menuliskan surat ketempat calon mertua mu?”.. , katakana bagaimana kau bisa menuliskan surat itu, bukankah kau buta huruf!”.., Bondita.., aku akan mematahkan kaki mu jika pernikahan mu dibatalkan”.

Sementara itu, Anirudh membaca semua isi surat milik Bondita dihadapan Sudamini. Bibu Mami kesal dan mendorong Bibi Mami lalu Sampoorna datang mengatakan pada Bondita “tahanlah telinga mu dan minta maaflah padanya, Bondita”. Bondita mengatakan pada Sampoorna “aku tidak ingin pengampunan .., aku hanya ingin jawaban suart itu, jika tidak aku tidak akan menikah dan pergi kerumah ku dan menjadi suami”. Layar terpecah menjadi 3 antara Bondita, Anirudh dan Sudamini.

 

Comments