BARRISTER BABU 14 FEBRUARI 2020 EPISODE 4

BARRISTER BABU  14 FEBRUARI 2020 EPISODE 4

INTERPRETASI SINOPSIS BY MADE TITS AERANI S.Pd


DESKRIPSI FILM :

Keluarga Bondita merasa lega ketika calon mertuanya membawa kunyit untuk upacara Haldi. Namun, Bondita dan ibunya tidak menyadari fakta bahwa pernikahannya telah diselesaikan dengan seorang kakek tua.

 

SINOPSIS EPISODE 4

Anirudh tersenyum setelah menyelesaikan membaca surat yang tidak sengaja terkirim padanya  dihadapan Sudamini dan mencari tentang nama pengirim surat, Anirudh mengatakan “Namanya telah terhapus”..,”aku menerima surat ini secara tidak sengaja”. Sudamini mengatakan “baiklah”.., “seandainya calon suaminya menerima surat ini pasti dia akan menolaknya”. Anirudh bertanya pada Sudamini “bagiamana kau bisa mengatakannya?”. Sudamini mengatakan “apakah kau tidak membaca persyaratan pernikahannya?” .., dia pasti akan mengira bahwa wanita itu gila atau sombong”. Anirudh menyetujuinya “benar dan cerdas”.., dia juga bisa menganggapnya sebagai gadis yang berfikiran bebas juga, Mini”. Sudamini mengatakan “bukankah itu sebagai suatu yang berlebihan?”. Anirudh berkata “itu terlalu banyak”..,” bukan hanya menempatkan kondisi di hadapan masyarakat yang ortodoks ini, tapi itu sebagai tindakan yang hebat”.., memang keebranian”.., “Gadis ini luar biasa!”. Sudamini terkejut. Anirudh berkata pada Sudamini “kau katakana bahwa seorang gadis tidak memiliki suara dalam pernikahannya, tetapi dia ingin sekali berbicara”. Sudamini berkata “dia gadis gila”. Anirudh mengatakan “Mini,  untuk menunjukkan jalan dalam kegelapan hanya dengan satu kunang-kuang saja itu sudah cukup, demikian juga dengan dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang cerdas”.., gadis lajang gila ini saja sudah cukup untuk menjaga harapan agar tetap hidup”.

Paman mengatakan pada Sumanti yang saat itu memeluk Bondita  “Pernikahan Bondita telah direncanakan / diperbaiki dengan susah payah, tapi dia telah merusak segalanya dengan mengirimkan surat itu.., upacara kunyit (haldi) mala mini dan kami tidak tahu jika calon mertuanya akan datang dengan membawa kunyit”. Bondita terlihat sangat senang dan berfikir “Ini sangatlah baik”.., “jangan biarkan mereka membawa kunyit!”.., maka pernikahan ini akan di batalkan, aku tidak perlu pergi dan meninggalkan ibu”. Bondia tertawa lepas dan gembira. Dengan kasarnya Bibi Mami memperlakukan Bondita dan berkata “Lihatlah bagaimana dia menyeringai!”.. bondita mengatakan pada Bibi Mami “Bibi, jika kau memegangi wajah ku maka gigi ku akan jelas terlihat!”. Bibi Mami kesal dengan Bondita dan berkata “Oh dewi kali berbelaskasianlah!”.., dia adalah gadis yang tidak tahu malu”.., “Apakah kau juga mau membatalkan pernikahan Sampoorna bersama dengan mu?”.., “Bagimana kita bisa mendapatkan mahar sebanyak itu?”. Bondita mengatakan pada Bibi Mami “aku hanya mengirimkan surat pada calon suami ku.., Jika dia marah pernikahan ku akan di batalkan jadi kenapa pernikahan Sampoorna yang akan di batalkan ?”.., “Apakah ada hubungannya antara pernikahan ku dengan pernikahan Sampoorna?”. Bibi Mami hanya terdiam dan menatap paman.

Anirudh mengatakan “aku akan mengirimkan surat ini kepada calon suaminya sendiri, dimanakah amplopnya?”..,”diamanakah amplopnya, Mini?”. Sudamini terlihat kesal dan bertanya pada Anirudh yang masih mencari amplop dari surat tersebut, Sudamini bertanya “apakah perempuan itu lebih cerdas dari pada aku?”. Anirudh menghela nafasnya dan berkata pada Sudamini “pertanyaan macam apa itu, Mini?”. Sudamini mengatakan pada Anirudh “apakah kau akan mengatakannya atau tidak?”.., tatapi ayah ku mengatakan bahwa tidak aka nada gadis yang lebih baik kualitasnya dari pada diri ku di seluruh Klkota”..”aku bisa bermain piano, aku bisa mengalahkan mu dalam tenis, baik itu Shakespeare atau bahkan Rabindranath Tagore, aku bisa berdebat sekaligus mengungkapkan pedapat ku “..,”jadi sekarang beritahu aku siapakah yang lebih cerdas?”..,”apakah aku atau gadis yang menuilis surat itu?”. Anirudh tersenyum mengatakan pada Sudamini “Mini, aku setuju bahwa kau tidak tertandingi, tapi gadis ini sangat menabjubkan!”.., Mungkin saja dia tidak bisa dibandingkan dengan mu dalam aspek lainnya”.., “Tetapi ketika harus memikirkan masa depan dia jauh lebih maju dari mu, Mini”. Sudamini kesal dengan pendapat tersebut berkata pada Anirudh “Semua hal ini hanya bagus secara teori, Anirudh”..,”tetapi jika kau calon suaminya apakah kau akan menikahi seorang gadis yang menempatkan kondisi seperti itu”. Anirudh menjawab “dan kemudian aku juga akan membuat persyaratan dihadapannya..”Baik itu sebagai suaminya, mertua atau di masyarakat”.., dia harus menuntut haknya dari semua orang dan jika dia setuju dengan kondisi ku maka aku akan memegang tangannya dengan sangat erat”.., bahwa dengan cara seperti ini dengan alasan dia akan terus menempatkan kondisi seperti ini di masyarakat dan mengakhiri diskriminasi”. Mendengar hal itu, Sudamini berjalan menatap Anirudh dan berfikir “Oh, jadi menurut mu gadis itu lebih baik dari ku”..”sekarang perhatikan saja apa yang akan aku lakukan”. Sudamini berjalan pergi dan tidak mempedulikan ketika Anirudh memanggilnya.

Anirudh berjalan pergi membawa surat milik Bondita di tangannya dan berfikir “sangat penting untuk gadis ini menemukan pasangan yang cocok.., tapi tanpa alamat bagaimana surat ini bisa sampai pada calon suaminya?”..”alamat gadis ini disebutkan dalam surat, apakah calon suaminya menerima balasan atau tidak.., gadis ini akan mendapatkan balasan untuk suratnya”.

Bibi Mami bergegas pergi, Sumati mengerjarnya “Kakak ipar”..”tapi kau telah menyiapkan emas kawain untuk pernikahan Sampoorna, lalu kenapa kau mengatakan hal itu?”..”apakah kau belum menyiapkannya?”. Bibi Mami mencari alasan “maksud ku..”. Paman mengatakan “Mahar sudah diatur dan kau sudah tahu akan hal itu”.., “Tapi dia gila dan selalu saja menghancurkan segalanya”.., “tapi apakah kau bisa mempercayai aku?”.., “aku tidak pernah melakukannya.., ada yang salah dengan Bondita”. Suamti megatakan pada paman “Tidak kakak.., kau telah memberikan kami tempat untuk berlindung..,”meragukan mu adalah dosa”. Paman mengatakan pada Sumati “Jangan kahwatir..,  dan hanya berdoa pada dewa sehingga upacara kunyit / haldi untuk Bondita akan dilakukan hari ini.., biarkan mereka yang memaafkan kesalahan Bondita yang telah mengirimkan surat itu”.

Ketika Anirudh masuk kerumahnya, saat itu Paman Trilochan mengatakan pada dua orang tamu tamu sambil mengecek semua dokumen “Jika kau tidak membayar bunga tepat waktu maka kau tidak akan dapat terhidnar.., jangan katakana jika tuan tanah memperoleh tanah itu”. Kedua orang pria itu pergi dan memahami apa yang dikatakan oleh Paman Trilochan “ Ya, tuan Komisaris”. Sementara itu, Anirudh pun kebingungan ketika melihat Binoy sedang menjawab panggilan telepon dan berkata “Anirudh sangat menyesal”.., dia akan membutuhkan waktu untuk memahami aturan dan juga regulasi”. Binoy menutup sambungan telpon itu dan berjalan pergi. Anirudh memanggilnya “ayah”..”ayah”.., bisakah kau menunggu sebentar?”. Anirudh juga memanggil paman Trilochan “Paman.., apakah kau juga bisa menunggu sebentar?”.., “aku harus mengatakan sesuatu”. Saat Binoy akan pergi, paman Trilochan menghentikannya dan berkata “Anirudh telah menerima kesalahannya”..”maafkanlah dia jika dia meminta maaf”. Anirudh mengatakan “aku tahu itu.., apa yang telah terjadi di pesta itu telah membuat mu kesal..”aku harus meminta maaf karena hal itu”..”tapi aku tidak akan meminta maaf “. Binoy dan Trilochan tersentak kaget menatap wajah Anirudh. Aniruhd mengatakan “ kerena kau merasa itu buruk.., tapi aku tidak”.., “kau hanya percaya pada kasta isme dan bukan aku”..”Masyarakat, rasa hormat, taradisi, budaya itu semua penting untuk kalian”..”Mereka sama sekali tidak penting untuk ku, ayah”.., “aku harap bahwa diskriminasi kasta ini dan perbedaan sosial bisa di akhiri.., “Ini akan menjadi tempat yang lebih baik jika orang miskin dan orang kaya dapat hidup bersama”..”setiap orang harus berjuang bersama untuk satu bangsa, satu opini  bahwa laki-laki dan perempuan harus mendapatkan hak yang sama.., seorang wanita tidak tunduk pada masyarakat Patrikal, tapi dia harus berjalan denga laki-laki “..”apapun yang aku lakukan hari ini  harus diinginkan oleh seluruh bangsa.., aku tahu bahwa pendapat kita berbeda.., tapi kita akan bertemu setiap hari, ayah”. Binoy hanya cemberut menatap Anirudh, Anirudh berkata pada Trilochan “Bukankah begitu, paman?”.., “aku tidak ingin menyakiti mu tapi mungkin aku telah menyakitu mu tanpa sengaja”..”kau bisa mengusir ku dari rumah ini, jika kau mau". Paman Trilochan terkejut. Binoy mengatakan pada Anirudh”Baiklah!”..,  kau harus pergi”.., “kemasilah tas mu, Anirudh”. Amirudh dan Trilocan tersentak.

Beberapa orang datang dan menyerahkan kunyit pada paman Bondita. Seorang pria (paman Munshi) mengatakan “Mohon terimalah kunyit ini untuk Haldi (upacara kunyit) Sampoorna”. Paman Bondita menerimanya, Munshi  mengatakan pada paman Bondita “seperti yang sudah diputuskan sebelumnya kita akan sampai disini dengan prosesi pernikahan dalam beberapa hari lagi”. Paman Bondita meyakinkan Munshi “Jangan Khawatir”..”kami akan memastikan persiapan prosesi pernikahan akan berjalan dengan baik”. Mushi mengatakan “itu bagus”.., tapi itu, apapun yang telah di putuskan”..,”apakah kau ingat apa yang harus kirimkan bersama dengan gadis itu”. Paman Bondita menatap Bibi Mami dan berkata pada Munshi “Itu akan dipersiapkan”. Musnhi memujinya “itu keren”..,”semuanya pasti akan baik-baik saja”. Munshi pergi. Sumanti  bersembunyi disuatu tempat dan tersenyum, ia berfikir”keluarga calon mertua smpoorna telah mengirimkan kunyit, aku jadi bertanya-tanya mengapa calon mertua Bondita tidak mengirimkan kunyit?”.., “kapan mereka akan datang?”.

Binoy mengatakan “Bukankah kita sedang membicarakan perubahan.., ini bukanlah perubahan tetapi revolusi”.., kau sampai tidak bisa berjalan dengan api revolosioner selama satu menit”.., “apakah kau tahu sesuatu dengan orang yang mingin kau rubah?”.., “apakah kau pernah berjalan di bawah sinar matahari?”..”pernahkah kau melukai kaki mu dengan batu?”..”Anirudh, tolonglah keluar dari dunia mimpi mu”.., “dan cobalah pahami apakah mereka ingin merubah apa yang ingin kau rubah?”.., “sebelum masyarakat melempari mu dengan batu  maka jangan berani lagi untuk bicara  tentang perubahan dan kembalilah kau ke London”. Anirudh dan trilochan terkejut. Binoy mengatakan “aku telah memesan tiket kapal laut untuk minggu depan, jangan sia-siakan tiket ku seperti pesta”. Anirudh mengagatakan pada Binoy “aku akan pergi, ayah”.., tapi bagian tanggal di tiket akan kosong “.., aku akan pergi hanya ketika kau akan berkata Ainirudh, kau telah melakukannya”.., “dari pada kau telah melakukannya bahkan jika aku pernah merasa jika bahwa mungkin aku tidak melakukannya maka aku sendiri akan bertanya pada mu  untuk mengisi tanggal ditiket”.., mungkin kau benar  mungkin ini hanyalah kegilaan ku dan kegilaan itu tidak akan bisa digantikan, ayah”.., aku memiliki persepsi yang unik .., kita tidak bisa mengubahnya, ayah”..”Jadi mari kita birakan waktu yang akan memutuskannya.., “siapa yang benar dan siapa yang salah “. Tilochan setuju dan menimpali Anirudh “Iya, kenapa tidak?”.., anirudh harus diberikan satu kesempatan”. Binoy berkata pada Trilochan “ bukankah kau mengatakan ini agar Anirudh tetap disini ?”. trilochan kehabisan kata-kata dan berpaling muka, Binoy menghela nafasnya dan berkata “Bailklah, aku akan memberikan mu satu kesempatan lagi..,”tapi ingatlah Anirudh, hari dimana kau telah kalah .., hari dimana kau telah kehilangan kegilaan mu maka aku yang akan memutuskan apa yang benar dan yang salah maka kau yang harus mematuhi perintah ku”.., sepakat?”. Anirutdh senang dan menyetujui perimntaan Binoy “aku setuju”. Binoy berjalan pergi, Anirudh tersenyum senang.

Anirudh mengatakan “Mulailah menulis, Somnath”.., “kau dipotong ditempat yang lain.., kau cukup berani untuk mengeluarkan suara mu sendiri”. Somnath kebingungan dan bertanya pada Batuk “apakah kau tau ejaan berani?”.., tolonglah aku cari dikamus”. Batuk mencari istilah yang digunakan Anirudh namun Anirudh masih merangkai kata-katanya “aku butuh wanita seperti mu untuk mengubah wajah Negara”. Somnath mencari batuk dan bertanya padanya “apa yang sedang kau lakukan?”.., biar aku melihatnya”. Buku itu terjatuh dan Anirudh terkejut lalu bertanya “apa yang sedang kau lakukan?”.

Somnath memarahi Batuk “kau tidak menemukan artinya di kamus dalam waktu 15 detik.., bagaimana kau bisa menyebut bahwa kau adalah seorang siswa medium dalam berbahasa inggris?”. Tanpa Somnath dan Batuk sadari, Batuk mengatakan pada Somnath “Kau tidak tahu bahasa inggris pada usia mu?”.., Somu pikirkanlah masa depan mu, kau tidak memiliki kualitas apapun yang dimiliki Anirudh”.., “Inilah yang ayah katakana tentang mu”. Anirudh hanya tertawa dan menggelengkan kepalanya. Somnath menahan amarahnya dan mengelus pipi Batuk berkata “Hari ini aku akan mengubah pipi mu menjadi merah”. Lalu Somnath akan memukul Batuk namun Anirudh datang menahan Somnath dan memisahkan Batuk darinya “Som.., apa yang akan kau lakukan?”.., tetaplah tetang”. Sudamini datang mengatakan dengan sangat jelas kata BERANI dan muncul di hadapan mereka dan berkata “bergitulah keberanian jika dieja”.., “bagaimana apakah kau menyukainya?”. Anirudh memuji Sudamini “Cantik”. Sudamini tersipu malu dan berkata pada Anirudh “aku bertanya tentang ejaan orang asing ku yang bodoh”. Anirudh bertanya pada Sudamini “Kenapa Bodoh?”. Sudamini mengatakan pada Anirudh “apakah kau pikir penampilan surat mu akan tau tentang level bahasa inggris ini?”.., lalu bagaimana jika gadis itu tidak secantik aku”..,”bagaimana jika dia tidak berpendidikan seperti aku?”..., adakah yang bisa cocok dengan ku?”. Somnath dan batuk menjawab “tidak ada kakak ipar”. Sudamini menolaknya “aku masih belum menjadi kakak ipar mu”. Somnath dan Batuk meyakinkan Sudamini bahwa dia akan menjadi Kakak ipar mereka. Sudahmini menjawab singkat “Siapa tahu”. Sudamini berjalan ke cermin dan bertanya tentang penampilannya “Bagimana apa aku terlihat cantik?”.., atau sangat cantik?”.., hari ini aku harus terlihat cantik, anggota keluarga mempelai pria akan datang untuk menemui keluarga ku, tepat pukul 6 sore”. Anirudh, Somnath dan Batuk tersentak kaget. Sudamini mengatakan “Mungkin kualitas ku akan menarik mereka.., aku berharap mereka akan menyukai ku”.., lihatlah apakah ada kesalahan dalam ikatan rambut ku?”. Anirudh berfikir “Sudamini.., kau berbohong dan memuji ku!”. Anirudh menggodanya dan berdiri di sampingnya berkata “Bisakah aku membiarkan mu pergi seperti ini, Mini?”. Anirudh memperbaiki perhiasan rambutnya dan berkata “sekarang dia pasti akan menyukai mu”. Sudamini kesal dan berjalan pergi Anirudh hanya tersenyum membiarkannya pergi. Anirudh mengatakan “aku akan menulis ulang surat itu dalam bahasa Hindi.., Mini sangatlah cerdas”. Somnath mengatakan pada Anirudh “mengapa kau tidak memberitahu pada kakak Ipar?”. Anirudh mengatakan pada Somnath “dia belum menjadi kakak ipar mu”. Anirudh hanya tersenyum dan berjalan pergi.

Bebrapa orang anak sedang menghalangi jalan pria tua yang akan memberikan bingkisan untuk pernikahannya, seorang anak mengatakan “Pria tua aku akan memukul mu”.., pergilah”. Pria tua mengatakan pada anak-anak tersebut “apakah kau tidak tahu siapa aku?”. Anak-anak berkata “kau pria tua”. Pria tua mengatakan “Itulah dia.., aku akan menikahi gadis dari keluarga ini”. Anak kecil berkata untuk meledek kakek tua “Menikah?”. Mereka mengejek kakek tua itu, Sumati terkejut saat itu dan bertanya-tanya “siapa dia?”. Anak-anak mengejek kakek tua “seorang pria tua akan menikah!”..,”pria tua”. Semua anak mengejek kakek tua itu dan berputar mengelilinginya. Sumanti melihat barang bingkisan ditangan kakek tua dan berkata “dia memiliki semangkuk kunyit ditangannya!”.., ku pikir dia adalah ayah mertua Bondita”. Menyadari hal itu, Sumati meminta pada Paro “dengarkalah, pergilah keanak-anak itu dan meminta untuk tidak mengganggunya”.., “dia adalah ayah mertua Bondita”. Paro menyetujuinya, Sumati mengatakan “dia membawakan kunyit untuk ritwal tersebut”.., tolong bawalah dia pulang dengan hormat”..”pergilah”. kakak tua mengusir semua anak “Hei!.., berhentilah untuk menganggu ku”. Namun semua anak itu mengejek kakek tua itu dan tetap berputar-putar mengelilinginya. Pria tua/ kakek mengatakan dengan sangat emosi “apakah ini cara kalian untuk menyambut seseoarang didesa mu?”. Paro datang dan meminta mereka untuk mejauh dari kakek tua dan meminta agar mereka tidak menganggu si kakek tua “Bibi sumitra berkata bahwa putranya akan menikah dengan salah salah satu gadis di desa ini.., dia ayah mertua Bondita”. Pria tua kebingungan dengan kata –kata paro “Apa ayah mertua?”. Pria tua/ kakaek tau mengomel-ngomel paman Bondita datang dan mengusir semua anak untuk pergi dan meminta maaf pada kakek tua. Pria tua mengatakan “Mereka tidak tahu siapa kau”.., silahkan masuk untuk makan dan minum”. Suamti tersenyum dan merasa lega.

Sudamini datang kekamar neneknya  yang sedang duduk dan memakan makanannya, nenek

mengatakan pada Sudamini “aku mendengar apa yang dikatakan Anirudh.., “sekarang apa yang akan kau lakukan?”..”Tidak mudah untuk membuatnya mengakui bahwa ia mencintai mu”. Sudamini mengatakan “dia hampir tidak mengatakannya, tapi aku tahu apa yang ada dihatinya.., nenek aku yakin tentang satu hal bahwa dia tidak bisa mencintai orang lain selain aku”.., apakah aka nada orang lain, siapa yang bisa untuk menangani Anirudh yang pemilih itu?”.

Bondita dan Sampoorna bermain di sungai, Sampoorna mengatakan pada Bondita “berhentilah makan, jika tenggorkan mu tertutup maka calon mertua mu akan mengira kau bisu”. Bondita bingung “Bisu?”.., apa itu bisu, sampoorna?”. Sampoorna mengatakan “sesorang yang tidak dapat berbicara disebut bisu!“. bondita berkata “naah dalam hal ini kita semua perempuan bisu”. Sampoorna bertanya “bagaimana kita semua bisu?”. Bondita mengatakan pada Sampoorna “Kata ibu…, wanita sering kali ingin mengatakan tidak tapi mereka tidak bisa untuk mengatakannya (angkatbicara)”.., karena mereka tidak dapat berbicara, bukankah mereka bisu?”. Sampoorna mengatakan pendapatnya pada Bondita “Tapi kami semua punya suara”. Bondita mengatakan “Jika kau memiliki suara, mengapa kau tidak bicara?”. Sampoorna mengatakan “Akan lebih baik jika kau berhenti untuk berbicara”…”kau akan terus belajar sepanjang waktu”. Bondita mengatakan”sampoorna hanyalah penalaran yang akan membawa perubahan”. Sampoorna mencobit kecil pipinya dan berkata “Bomdita, aku akan sangat merindukan pembicaraan yang menarik dirumah mertua ku”. Bondita mengatakan “Jika kau merindukan ku, kau harus datang untuk mengujungi ku”..,”Ibu, kau dan aku”..”Kita bertiga akan bermain bersama”. Sampoorna “untunglah kau sangat bahagia untuk menikah”. Bondita mengatakan “Tidak sampoorna.., aku senang karena aku tidak akan menikah, Karena aku tidak mendapatkan balasan dari surat itu, itu berarti mereka tidak menerima lamarank ku dan mengirimkan kunyit”.., “tanpa ritual kunyit tidak aka nada mungkin ada ritual pernikahan .., jika aku tidak menikah maka aku tidak akan menjauh dari ibu ku”. Sampoorna mengatakan pada Bondita “Kau bodooh, itu tidak benar”.., “begitu kau akan menikah maka kau akan menjauh dari ibu mu”..,”tapi kau juga akan menemukan jika suami mu mencintai mu”. Bondita bertanya pada Sampoorna “adakah yang bisa mencintai seseorang lebih dari seorang ibu?”. Sampoorna hanya terdiam, Paro datang memberitahu pada Bondita “Ayah calon mertua mu datang dengan membawa kunyit”.., cepatlah pulang”. Sampoorna senang mengatakan pada Bondita “Upacara kunyit dan kemudian upacara pernikahan”. Bondita terdiam dan berfikir “ayah mertua ku datang membawakan kunyit.., jadi dia juga membawakan balasan surat dari calon suami ku”.

Dirumah, Paman Bondita berkata pada kakek tua “aku minta maaf tentang surat itu. Dia tidak bersalah dan mengirimkan surat tanpa sepengetahuan kamu”. Kakek tua bertanya “suarat apa?”.., aku tidak mendapatkan surat apapun”. Bibi mami tersenyum senang berkata “kami diselamatkan”.., “Kita membahas sesuatu yang lain.., berikan kunyit yang kau bawa untuk upacara agar aku bisa menyelesaikan sisa tugasnya”. Kakek tua memberikannya pada bibi Mami dan kemudian membuka koper lalu memberikan uang pada paman Bondita “Ini jumlah uang yang telah kita sepakati.., kau akan mendapatkan kambing dan sisanya pada hari pernikahan”. Mereka berdua saling Tarik meanrik uang, kekak tua mengatakan pada paman Bondita “aku telah menyelesaikan tugas dipihak ku.., bukankah kau akan melakukannya?”.., aku harap kau tidak akan mengingkari janji mu”.., “bukankah kau tahu siapa pemiliknya begitu aku membayar mu?”. Paman Bondita hanya mengangguk dan mengambil dengan paksa uang itu, Bibi Mami tersenyum puas.

Kakek tua mengatakan “Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya aku bukanlah ayah mertua Bondita.., kau akan memberitahukannya pada gadis itu dan ibunya yang telah menjanda tentang identitas asli ku”. Paman Bondita mengiyakannya. Kakek tua mengatakan “aku harap kau mendapatkan bagaimana aku menyukai cara kau mengatur pernikahan ku, kan?”. Paman Bondita hanya menganggukan kepalanya.

Sementara itu diluar, Bondita berlari menuju kerumahnya, dengan sangat penuh percaya diri kakek tua berkata pada paman dan bibi Bondita “aku belum pernah kehilangan barang cuarian ku bahkan sampai usia ku ini”. Pelayannya Bairav memberikan topi yang akan di gunakannya untuk menikahi Bondita dan memakiannya, Kakek tua mengatakan “bukankah aku terlihat seperti penganten laki-laki?”. Bondita masih dalam perjalanannya menuju kerumahnya, Kakek tua mengatakan “apakah kau senang aku akan menikah dengan keluarga mu?”.., sebagai calon suami Bondita. Paman dan Bibi Mami hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, Bondita berlari dengan sangat senang hingga ia menabrak seorang wanita dengan bubuk merah ditangannya, bubuk mengenai sang kakek dan membuat si kakek tua terjatuh, topinya juga ikut terpental ke tanah. Bibi Mami terlihat sangat marah namun ia menyembunyikan topi pernikahan milik kakek tua di bawah keranjang, kakek tua terbatuk. Paman Bondita bertanya “apakah kau baik-baik saja?” kemudian meminta sesorang untuk mengambilkan air, sementara itu Bibi Mami menjauhi Bondita cari calon suaminya yang tua Bangka. Bibi Mami menjewer telinga Bondita berkata “kau bodoh!”.., kau selalu saja muncul pada waktu yang salah, jangan berperilaku buruk didepan orang tua.., pergilah kau sekarang!”. Bondita bertanya pada Bibi Mami “mengapa aku tidak bisa berada disinis ementara aku akan mengadakan upacara kunyit?”. Paman meminta kakek tua itu meminum air, Bondita mengatakan “apakah kau yakin, kau tidak akan menggunakan kunit ku bibi?”. Bibi Mami mengatakan pada Bondita “apakah kau menyadari apa yang kau katakana?”.., sekarang pergilah!”. Bondita menolaknya “Tidak!”.., aku akan menanyakan pada ayah mertua ku tentang jawaban surat ku”. Kakek tua mendengarnya dan memegangi dadanya bertanya-tanya “Surat?” . paman Bondita mengatakan pada kakek tua “dia berbohong, dia tidak tahu bagaimana cara untuk menununjukkan dirinya didepan calon suaminya, aku akan berbicara dengan bibinya tentang hal itu”. Bibi mami mengatakan pada Bondita “apakah kau tidak punya rasa malu?”.., Bagaimana kau bisa menunjukkan diri mu didepan calon mertua mu dengan rambut yang tidak diikat?”.., bukankah ibu mu telah mengajarkan mu tentang pentingnya rambut mu?”.., sekarang pergi dan ikatlah rambut mu”. Bondita menghempaskan tangan bibi mami yang mencengkram tangannya”Bibi, lupakan tentang rambutnya bahkan jika kau mengikat ku di tiang aku tetap tidak akan mengeluh.., aku hanya ingin jawaban atas surat ku dari calon ayah mertua ku”. Sumanti datang dan memeluk Bondita, Bibi Mami emaikan nada suaranya “aku akan menghajar mu!”. Sumitra mengatakan pada Bibi Mami (kakak iparnya )”aku akan membuatnya mengerti”. Bibi mami mengatakan pada Sumitra ”Ya.., dank au juga harus mengerti.., kami memerikan kau makan dari kantong kami sendiri, bukankah ini masalah yang sangat besar?”.., untuk berapa lama kita akan membayar pengeluaran Bondita yang rakus ini?”. Bondita marah dan mengatakan pada Bibi Mami “Kau memanggil ku rakus, tapi kau tidak pernah meberikan ku Laddo yang dibawawakan oleh calon ayah mertua ku!”. Sumati menutup mulut Bondita dan Bibi Sumati kehabisan akal mengahdapi Bondita “Ya dewa!”.., dengarkanlah dia!”.., “dia selalu tertarik pada Laddo”.

Kakek tua mengatakan pada paman Bondita “aku sudah dengan sangat baik membayar calon pengantin ku, seandainya kami belum memutuskan tanggal pernikahan maka aku yang akan segera menikahinya!”.., jagalah dia selama dua hari”. Bibi mami mengatakan pada Sumati “sudah cukup kita tidak bisa membesarkannya lebih lama lagiu, aku tidak ingin dia membuat keributan sampai dia menikah”. Bibi mami menatap Sumitra yang hanya terdiam membisu.

 

 

Comments