BARRISTER BABU 17 FEBRUARI 2020 EPISODE 6
INTERPETASI SINOPSIS BY MADE TITIS MAERANI S. Pd
DESKRIPSI FILM :
Untuk menghentikan Bondita membuat keributan selama pernikahannya dengan kakek tua, bibinya mengatur rencana jahat untuk membuat Bondita tidak sadarkan diri selama pernikahan, Bibi Mami memanfaatkan rasa lapar Bondita sebagai senjata dan menawarkan Kheer-nya yang telah dicampur dengan kloroform/ obat bius dosis tinggi.
SINOPSIS EPISODE 6
Sumanti, menatap langit penuh dengan bintang dikegelapan malam, putrinya Bondita tidur di pangkuannya. Sumanti mengatakan pada Bondita “Kau akan menikah, berapa lama lagi kau akan berpelukan di pangkuan ku”. Bondita bertanya “kenapa, apakah kau merasa aku berat?”.., “aku akan selalu beristriaraht dipangkuan mu, meskipun kita berada ditempat mertua ku”. Sumanti mengatakan pada Bondita “Kau gila, apakah kau tau tentang ini, bondita?”.., pakian mu sangat indah”. Bondita mengatakan “Pakian itu juga sangat berat, tidak bisakah aku memakai gaun yang telah kau jahitkan untuk ku?”. Sumanti menjawab “Tidak sayang ku, inilah kebiasaan, kau harus memakinya pada hari pernikahan mu”. bondita mengatakan “ pasti orang yang telah membuat kebiasaan ini telah membuat semuanya menjadi salah.., aku yakin dia tidak punya anak perempuan jika tidak dia pasti sudah membuat bea cukai (pajak) yang juga akan disukai oleh para gadis.., mengapa dia tidak menemui mu saat dia membuat bea cukai (pajak), ibu?”. Sumati mengatakan “sekarang kau harus menerima dan memenuhi (mematuhi) adat istiadat yang sudah ada, ingatlah kau harus makan hanya setelah suami mu selesai makan”. Bondita bertanya “kenapa?”.., “apakah makanan terasa enak jika aku memakannya nanti?”. Suamti mengatakan pada Bondita “Iya, mungkin kau berasumsi/ berpendapat demikian, tapi semua istri yang baik melakukan hal itu”. Bondita bertanya “Lalu apa yang dilakukan oleh suami yang baik. Ibu?”. Sumanti tersenyum, ia berkata pada Bondita “dengarkanlah, Bondita”.., kau putri ku yang sangat baik, demikian juga kau harus menjadi menantu dan juga istri yang baik”.., Jika kau membuat kesalahan di tempat mertua mu maka minta maaflah pada mereka”.. pertimbangkan suami mu sebagai dewa dan sembahlah dia”.
Bondita bangun dari pangkuan Sumanti dan bertanya “Jika aku harus menganggap suami ku sebagai dewa, lalu apa yang harus aku anggap sebagai dewa, ibu?”.., “akankah suami ku akan memiliki empat tangan?”..,”apakah dia akan memanggang cakra dan busurnya?”.., akankah dia memenuhi semua keinginan ku jika aku berdoa padanya?”. Sumati mengatakan pada Bondita “Tidak sayang”. Bondita bertanya “lalu kenapa aku harus menganggapnya sebagai dewa ku?”.., jika suami ku seperti ku, maka kita sama, kan bu?”. Sumanti bertanya pada Bondita “Bagimana pendapat mu tentang semua hal ini?”. Bondita mengatakan “Hanya dewa yang tahu!”.., ibu aku lapar”. Sumanti menolaknya berkata “Tidak “..,”kau tidak bisa makan sekarang, kau harus menjalankan puasa sampai kau menikah”. Bondita cembetut namun Sumanti menggoda dengan mengelitikinya.
Suara bibi Mami terdengar sinis berkata “jadi kau masih belum selesai untuk memanjakan putri mu?”.., haruskah kita menunda pernikahan?”.., bukankah kau harus mengirim Bondita untuk bersiap-siap?”. Sumianti, menjawab “Iya kakak ipar, aku akan kesana”. Sumanti mengatakan pada Bondita bahwa tetangganya akan mendandaninya seperti pengantin yang cantik, namun Bondita bertanya “Tidak bisakah kau mendandani aku”. Sumanti hanya terdiam menatap Bondita, ia berkata pada Bondita “aku harap begitu, tapi..”. Bondita mengatakan tentang pajak (bea cukai). Sumantimenutup mulut Bondita dan memintanya untuk diam, Sumanti mengatakan “Biarkan aku melihat mu sampai aku puas, aku bertanya-tanya kapan aku akan..”. Bondita bertanya “apa maksud mu?”
Bondita bertanya pada Sumati “Ibu, kau akan datang ketempat mertua ku bersama dengan ku kan?”. Sumanti menjadi geliash, ia berfikir “akankah aku harus berbohong pada Bondita”.., tidak peduli seberapa keras aku mencoba untuk menjelaskan padanya, dia tetap tidak setuju untuk menikah”
Sumanti tersadar dari lamunannya, ia mengatakan pada Bondita”Iya aku akan datang, setelah dua atu tiga hari, banyak adat yang harus di lakukan di tempat mertua mu.., suka, Vadhu Varan, bahu bahat”.., setelah semua ritual pernikahan telah di lakukan aku akan datang”. Bondita merengek berkata pada Sumanti “bagaimana aku bisa tinggal disana tanpa mu selama dua atau tiga hari, Ibu”.., ikutlah dengan ku”. Sumanti mengatakan pada Bondita “Jika itu memungkinkan aku akan datang”.., “aku tidak di takdirkan untuk melihat mu sebagai pengantin, tapi kau harus berdandan seperti seorang putri”. Bondita menolaknya “tidak ibu”.., ikutlah dengan ku, aku ingin kau tepat ada di depan mata ku dan jangan tinggal di dalam rumah besok, kau harus duduk dengan ku”. Sumitra mengatakan pada Bondita “tolong cobalah untuk mengerti, sayang”.., aku tidak bisa ikut dengan mu”. bondita bertanya pada Sumati “kenapa tidak ?”.., aku tidak akan pergi tanpa mu”. bondita marah dan pergi dari hadapan sumati. Sumanti mencoba untuk memanggilnya dan mengejarnya. Bondita mengatakan “Kirim iring-iringan itu kembali karena aku tidak akan menikah, aku tidak akan berdandan tanpa mu”. Sumanti memintanya untuk berhenti dan memeluknya, Sumati menangis mengatakan pada Bondita “kenapa kau selalu saja merepotkan aku”.., kenapa kau tidak bisa mengerti, Bondita?”.., aku tidak bisa mendandani mu sebagai pengantin.., aku tidak bisa datang ke artar pernikahan mu”.
Bondita marah melepaskan pelukannya, ia bertanya pada Sumanti “Tapi kenapa?”. Sumanti memeluknya kembali “karena .., karena aku seorang janda, dengan kehadiran ku tidak akan menguntungkan”.., hidup ku di kutuk dan hidup mu akan hancur jika aku datang kesana, cobalah kau pahami hal ini.., ku mohon mengertilah”. Sumanti menangis, ia pergi dan mengunci pintu meninggalkan Bondita sendiri. Bondita memanggilnya namun Sumanti hanya menangis, Bondita menraih sebuah kayu di atas pintu, ia mengatakan pada Sumati “Ibu, apa yang lebih tidak menguntungkan dari pada kenyataan / fakta bahwa kau tidak bisa menghadiri pernikahan ku?”.., akan tidak menguntungkan juga untuk menikah tanpa meminta berkah dari mu”. Sumanti mencoba untuk menahan tangisnya didalam, Bondita mengatakan pada Sumanti “Baiklah, aku akan pergi.., aku akan berdandan atas desakan dari mu.., kunci mu ada bersama dengan ku.., jangan keluar jika kau tidak mau”.., “kau bisa melihat pernikahan ku dengan tetap berada disini.., apakah kau akan melihat ku sebagai pengantin?”. Sumanti menahan tangisnya.
Keesokan paginya, paman trilochan sedang melakukan puja. Anirudh mengatakan pada Bihari “disini dimana kau akan mendapatkan bunga?”. Bihari menjawab bahwa ia mendapatkannya di taman, “benarkah?”.., aku tidak tahu tentang hal itu”. Anirudh menginginkan banyak bunga dan bertanya pada Bihari “dimanakan aku bisa mendapatkannya?”. Somnath bertanya pada Anirudh “kenapa?”. Anirudh ingin membuat ayunan bunga untuk Mini”. Batuk bertanya pada Anirudh “apakah dia seorang anak kecil yang harus duduk di ayunan?”. Anirudh mengatakan “aku akan membuatnya duduk di ayunan dan kemudian melamarnya”. Batuk mengatakan “bairkan aku memberitahu mu.., Ya..ya..ya”. Trilochan mengetiskan air suci pada asisten rumah tangganya (ayah Saurabh). Asisten Rumah tangga pria mengatakan pada paman Trilochan “Pak aku butuh restu dari mu”.., kami sedang mencari calon istri (pengantin) untuk Saurabh”.., jika kau memberkahi mereka dengan menghadiri pernikahan maka mereka pasti akan menjalankan kehidupan rumah tangga yang baik”. Binoy mengatakan “aku tidak bisa datang saat aku melakukan pertemuan dengan perwira inggris ditempat pembuatan bir”. Trilochan mengatakan pada ayah Saurabh”Jika berkah bisa membantu mu, haruskah kami memberikan berkah ataukah gaji untuk bulan depan?”.., apakah kau lupa dengan setatus mu dan juga milik kami?”.., apakah kau pikir antara kita setara?”.., “kami adalah tuan tanah, kami tidak akan pernah kembali untuk memberikan hadiah”. Trilochan menunjukkan uang namun Anirudh mengambilnya.
Anirudh mengatakan “Tidak perlu memberikan hadiah disini, paman”.., karena kita akan menghadri pernikahan”.., Saurab teman ku dan aku pasti akan menghadiri pernikahannya”.., aku yang akan menghadiri pernikahan Saurabh”. Ayah Saurabh berterima kasih padanya dan ia berjalan pergi.
Binoy berkata pada Anirudh “Bukankah kau harus mengunjungi rumah Sudamini untuk membicarakan pernikahan mu?”. Anirudh menjawab pertanyaan Binoy “Iya ayah, aku akan melakukannya di malam hari”. Anirudh mengatakan pada Somnath “aku harap kau sudah mengatur semua persiapannya?”. Somnath mengatakan pada Anirudh “ Aku sudah melakukan yang lebih baik dari pada itu, kakak”. .., kakak ipar (Sudamini) pasti akan mengatakan ya sebelum kau melamarnya”. Batuk berkata dengan menirukan gaya Sudamini “ Oh tidak!..” aku masih berlum menjadi kakak ipar mu”. Trilochan memarahi Batuk “ Jangan mengatakan hal-hal yang negatif, bagaimana jika kata-kata mu menjadi benar?”. Anirudh mengatakan pada Trilochan “Kau jangan marah, Paman” "Bukankah kau harus mengunjungi rumah Sudamini untuk membicarakan pernikahan mu?". Anirudh berkata pada Binoy " iya ayah, aku akan melakukannya di malam hari". Aniruh bertanya pada Somnath" aku harapnkaubsudah membuat persiapannya/pengaturannya?". Somnath mengatakan" aku sudah melskukan hal yang lebih baik dari pada itu, kak".., kakak ipar pasti akan mengatakan iya, bahkan sebelum kau melamatnya". Batuk menirukan gaya Sudhamini berkata"oh tidak!" aku masih belum menjadi kakak ipar mu". Trilochan marah pasa Batuk dan menegurnya " jangan berbicara hal- hal yang negatif".., bagaimana jika nanti kata-kata mu itu benar?".
Anirudh berkata pada Trilochan "kau jangan marah, paman".., bagaimana bisa hubungan ini akan putus jika itu sudah ditakdirkan?".
Paman dan bibi Mami berdiri menyambut setiap tamu yang datang. Paman Bondita berkata lada Bibi Mami"Bindita telah membuat kehebohan dalam upacara haldi (kunyit).., dia pasti ajan sangat marah jika melihat suaminya sudah tua (kakek tua)". Bibi Mami dengan yakin berkata"dia (Bondita) tidak akan melakukan hal semacam itu, Bondita akan tetap tidak sadar sepanjang pernikahan". Bibi Mai nengeluarkan kheer dari balik sarinya dan menujukkannya pada pamaan" bagitu dia memakannya, aku telah menambahkan ramuan kedalamnya". Kilas balik menampilkan saat Bibi Mami menuang carian obat kemakanannyang ia siapkan untuk Bondita, kilas balik berakhir.
Paman Bondita bertanya"tapi bagainana Bondita akan memakannya?" .., bukankah dia berpuasa?". Bibi Mami mengatakan" aku memang sadar dengan hal itu, tapi apakah jau tahu, makanan adalah kelemahannya".., begitu Bondita melihat kheer ini dia akan menyerah dan menjilati mangkuknya".., lakukan satu hal saja, kuncilah pintu kamar adik mu (sumati).., agar dia tidak curiga bahwa putri kesayangannya menikah dengan orang yang sudah tua (kakek)". Paman Bondita berguam " itu bagus sekali". Bibi Mami berkata" Bondita akan menikah dengan seorang pria tua, biarkan saja aku ingin melihat siapa yang berani untuk menghentikannya" Bibi Mami berjalan pergi.
Sudamini bermain piano, ia kesal saat alunan lagunya salah. Anirudh datangbdibelakangnya, ia menaruh tangannya diantara tangan Sudamini dan menuntun jari jemari Sudamini diatas piano, Sudamini tersipu malu, ia bangun fan berjalan menjauhi Anirudh.
Anirudh menghampirinya, ia berkata pada Sudamini " ada yang ingin ku katakan pada mu dan apa yang ingin kau dengar dari ku, malam ini akan terjadi dan itu akan menjadi saksi". Sudamini mengatakan pada Anirudh" jika kau bicara begitu aku tidak akan membiarkan mu pergi ke pernikahan Saurabh". Anirudh bertanya" apakah Som yang telah membeti tahu mu?".., bahwa aku akan menghadiri pernikahannya?. Sudamini mengatakan " siapa yang mengenal mu lebih baik dari ku, aku bisa membaca wajah mu dan mengetaui pikiran mu". Anirudh bertanya" jadi katakan apa yang tertulis di eajah ku?". Sudamini menjawab " cinta.., kau tidak akan pernah menghancurkan hati ku". Anirudh mengatakan" bahkab aku tidak terlalu percaya diri, sering kali aku melakukan banyak hal yang tidak pernah aku bayangkan".., " apa kau tahu salim memanggil ku di London?". Sudamini menggeleng, Anirudh mengatakan " Bengali gila". Anirudh dan Sudamini tertawa, ia berkata pada Anirudh " jadi tunjukkan.pada ku seberapa gilanya diri mu?"..," aku telah menunggu mu terlalu lama untuk mendengarkan ini".., jika kau membuat ku menunggu hari ini, maka kau akan mengancurkan hati ku". Sudamini kembali membuang sepatu dan tersenyum.menatap Anirudh.
Anirudh datang memenuhi undangan pernikahan saurabh dan saat itu Bibi Mami melakukan tilak pada calon suami Sampoorna ( Pada Saurabh), disisi lain Anirudh melihat seorang kakek tua betsama dengan anggota keluarganya, Anirudh bertanya pada Munshi "apakah itu tradisi untuk ayah mertua, untuk bepakian seperti pengantin pria?". Munshi mengatakannpada Anirudh" tidak Anirudh, tidak ada tradisi seperti itu, tapi dia sendiri pengantin prianya". Anirudh terkejut " benarkah".., apakah dia akan menikahi seorang janda?".., atau dia memang terlambat untuk menikah?". Munshi betkata " tidak".
Paman Bondita memeluk Munshi. Anirudh berfikir “Dua orang juga dapat memulai hidup baru diusia tua, itu sangat progesif, masyarakat kita pasti akan berubah jika ada orang seperti dia dan juga gadis yang memberikan persayaratan dalam surat itu”.
Bondita telah memakai baju pengantin dan sedang dindandaini oleh dua orang wanita. Ia sangat senang dan menatap dirinya di cermin dan memainkan perhiasannya, sementara itu Anirudh ditampilkan, Bibi Mami datang menemui Bondita dengan membawakannya Kheer. Wanita perias memasukan botol dan menyimpulkan ikatan pada sarinya, Bondita bertanya padanya “ untuk apa ini?”. Bibi Mami meminta kedua wanita itu untuk pergi keluar, dengan sangat kasar Bibi Mami mencengkram wajah Bondita berkata “Bondita ku sayang!”.., aku mengikatkan simpul ini agar calon suami mu menaruhkan sindur (vermillion) di dahi mu.., ini kesembatan dan juga keberuntungan untuk kau menikah dengannya”. Bondita bertanya “apa keberuntungan itu?”.., apakah itu bisa dimakan?”.., apakah aku harus membelinya dengan uang?”. Bibi Mami bertanya pada Bondita “ Bukankah kau lapar?”. Bondita menganggukan kepalanya. Bibi Mami kembali mencengkram wajah Bondita dan berkata padanya “ Itulah sebabnya mengapa kau berbicara sangat manis”. Bondita bertanya “apakah kau juga lapar?’. Bibi Mami bertanya pada Bondita Mengapa kau berfikir begitu?”. Bondita menjawab “ Bahkan kau berbicara dengan sangat manis”. Bibi Mami kesal namun menorah amarahnya pada Bondita, ia berkata pada Bondita “kau akan pergi sekarang, aku pasti akan sangat merindukan mu, ini aku tahu kau pasti sangat lapar, itulah mengapa aku membawakan kheer ini untuk mu”. Bibi Mami bertanya pada Bondita “apakah kau akan memakannya?”. Bondita menganggukan kepalanya dan tersenyum. Bibi Mami menantikan jawaban Bondita.
Bondita mengatakan pada Bibi Mami “Kau selalu saja meminta ku untuk melepaskan diri dari Norma?”. Bibi Mami mengatakan pada Bondita “ sebenarnya, kau akan meninggalkan kami untuk selamanya setelah kau menikah, jadi aku ingin kau mengingat betapa aku sangat mencintai mu”.., ayolah makan Kheer ini”. Bondita terkejut dan berkata pada Bibi Mami “Bukankah aku akan berdosa dengan melepaskan tradisi ?”. Bibi Mami menjawab “ Itu hanya jika ada orang yang mengetahui tentang hal ini”. Bibi Mami menyuapi Bondita khher dan meminta agar Bondita membuka mulutnya dan memakannya. Sampoorna datang kesana dan membuat Bibi Mami tersentak kaget. Sampoorna kesal dan marah pada Bibi Mami “apakah kau memang telah menganggap bahwa aku telah diambil, bukankah aku lebih tua dari Bondita?”.., bukankah aku juga pengantin?”.., haruskah aku tidak menjadi orang pertama yang memakan kheer itu?”. Bondita setuju dengan Sampoorna berkata pada Bibi Mami “ Iya, beri makan kherr itu padanya terlebih dahulu”. Bibi Mami menjadi bingung dan berfikir “ Jika Sampoorna memakan Kheer maka dia akan pingsan dan semua rencana ku akan kacau “. Sampurna meminta pada Bibi Mami “Beri aku makan”. Sampoorna membuka mulutnya.
Bibi Mami beralasan “Kau tidak bisa memakan ini”.., maksud ku kau tidak bisa memkanannya sekarang sudah waktunya ritual pernikahan mu, jika kau memakannya sekarang maka upacara mu tidak akan mendapatkan hasil”..” Bondita hanyalah anak kecil, tapi bukankah kau lebih tua darinya, tidak bisakah kau mengikuti tradisi dan mengendalikan diri mu?”. sampoorna mengatakan pada Bibi Mami “baiklah, aku tidak akan memakannya”. Sampoorna pergi, Bibi Mami mengatakan pada Sampoorna “Dengarkan, jangan beri tahu tentang hal ini pada siapapun tentang hal ini.., bagaimana pun cinta seorang ibu adalah sesuatu yang istimewa.., kau pergilah”
Bibi Mami kembali meminta kembali agar memakan kheer dan Bondita memakannya, Bibi Mami tersenyum puas sambil menyuapinya, Bibi Mami bertanya pada Bondita “apakah Kheer ini lezat?”. Bondita hanya menganggukan kepalanya. Bibi Mami berfikir “Bondita akan pingsan dalam beberapa waktu, kapam pun dia akan datang.., dia akan tetap menjadi istri dari kakek tua itu”. Bondita tersenyum, sementara itu Bibi Mami menatapnya tajam dari kejauhan dan berjalan pergi.
Comments
Post a Comment