BARRISTER BABU 20 FEBRUARI 2020 EPISODE 8

 

 INTERPETASI SINOPSIS BY MADE TITIS MAERANI


DESKRIPSI FILM :

Saat upacara pernikahan Bondita dengan Kakek tua renta hampir berakhir, nasib malang menimpa kakek tua renta ketika ia mendapatkan serangan jantung secara mendadak dan seketika meninggal di altar pernikahannya bersama dengan Bondita, tidak hanya kematian kakek tua yang mengejutkan untuk semua orang namun kerabat dari kakek tua dengan memaksa agar Bondita melakukan Sati (Membakar dirinya hidup-hidup)  sebagai bagian dari tradisi dikeluarga mereka.

  

SINOPSIS EPISODE 8

Anirudh terkejut ketika melihat Kakek tua renta sedang melakukan ritual pernikahan di altar mereka dari kejauhan, Bibi Mami melepaskan bondita yang tidak sadarkan diri saat itu. Polisi mengatakan pada Anirudh:datanglah pada wanita dibangsa ini, maka orang-orang dibangsa ini akan memiliki pikiiran kuno (lama) dan terbelakang.., mereka akan selamanya begitu, tidak aka nada yang berubah di negera ini”. Anirudh menolak ucapak polisi, ia berkata “Tidak!”.., bangsa ini akan berubah, mungkin aku sendiri yang akan melakukannya, aku tidak akan membiarkan sesuatu yang salah terjadi dinegara ku”. Anirudh menatap Bondita yang tidak berdaya ditopang oleh bibi mami yang membantunya mengelilingi api suci.

Sumitra terdiam tidak berdaya, ia menangis menyesali karena tidak bisa menyelamatkan Bondita dan berkata bahwa ibunua adalah seroang wanita yang jahat yang tidak bisa membantunya, dan meminta agar Bondita mau memaafkannya karena rasa kebuan pada dirinya telah di kalahkan oleh rasa takut yang tertinggal di dalam dirinya, sumitra menyesalinya karena dirinya relah di kalahkan oleh rasa takutnya. Sementara itu dilator pernikahan antara kakaek tua renta dan Bondita yang pingsan, kerabat kakek tua sangat senang begitu juga paman dan bibinya yang jahat mereka saling menatap satu sama lain, kakek tua renta terus memegangi dadanya.

Anirudh kesal, ia mengambil puistol dari kepala polisi, kakek tua renta dan Bondita mengganti posisinya, Anirudh melepaskan satu tembakan sebagai peringatan dan ia melarikan diri dan melarikan diri kembali ke tempat dimana Bondita dan kakek tua melangsungkan pernikahannya. Kepala polisi mencoba untuk menghentikannya “hey.., kemana kau akan pergi?”, ia memerintahkan pada kedua anak buahnya untuk menangkap Anirudh, anak buah polisi mengejar Anirudh. Kakek tua renta merasakan nyeri pada dadanya dan ia memegangi dada selama memutari api pernikahannya dengan Bondita, kerabat laki-laki dari kakek tua mencemaskannya namun kakek tua meingsyarat agar saudaranya tidak menghiraukan dirinya, Anirudh terus berlari kembali kealatar pernikahan.

Kerabat laki-laki kakek tua bertanya pada adik iparnya (seroang nenek tua) tentang keadaan kakaek tua “apakah dia baik-baik saja?”. Nenek tua memintanya untuk tenang, kakek tua menahan rasa sakit didadanya dan terus berputar mengambil sumpah pernikahannya dengan Bondita.

Sampoorna begitu sangat mencemaskan Bondita “sumpah pernikahan sedang berlangsung dan kemudian pernikahan itu akan selesai”. Anirudh masih dalam perjalanannya menuju ke tempat pernikahan kakek tua renta, sementara itu kakek tua terus memegangi dadanya yang sakit dan seketika terjatuh, serta meninggal dunia di altar pernikahan itu. Semua orang terkejut saat itu dan Anirudh menghentikan langkah kakinya.

Paman Bondita berkata agar sesorang segera menghubungi dokter, dan beberapa orang pria menggotong jasad sang kakek tua turun dari altar pernikahannya. Paman Bondita meminta agar dokter memriksa keadaan si kakek tua renta. Nenek dan kakek yang merupakan kerabatnya berada disampingnya, dokter berpendapat bahwa kakek tua telah mati.

Semua orang bertambah terkejut, nenek tua atau adik ipar dari kakek tua berterika seakan tidak percaya dengan kematian kakak iparnya “Tidak”. Kakek dan nenek itu pun menangis di hadapan mayat kakek tua. Saurabh menatap Sampoorna.

Paman Bondita berkata pada dokter bahwa sampai sekarang kakek tua itu baik-baik saja dan bertanya bagaimana hal itu bisa tiba-tiba terjadi. Dokter berpendapat bahwa kakek tua renta itu telah menderita suatu penyakit yang serius.

Nenek tua seolah tidak percaya berkata “Dia (kakak iparnya) baik- baik saja tidak punya masalah kesehatan, tapi gadis itulah (Bondita) masalahnya", dia gadis yang tidak menyenangkan, nasib buruk gadis itulah yang telah membunuhnya, dia(kakak ipar) ku sehat dan bugar saat datang kesini", begitu dia menikah dengan gadis jahat itu ( Bondita), dia kehilangan nyawanya".

Paman Munshi datang menemui Anirudh dan memintanya untuk mengendalikan dirinya. Munshi bertanya pada Anirudh" kenapa kau kembali?".., pengantin prianya telah meninggal, pernikahan ini tidak akan pernah terjadi sekarang kau harus pergi dari sini".., jika ada yang memperhatikan mu ada disini.., kau yang akan disalahkan untuk semuanya". Anirudh berkata" biarkan meteka menyalajkan ku.., aku tidak takut pada siapapun". Munshi berkata pada Anirudh" aku tahu kau tidak takut pada siapapun, tapi aku yang takut itu akan menjadi hanghuan pada pernikahan Saurabh".., dengarkanlah.., aku meminta pada mu, tolong kau pahami situasi ku ini, aku...". Munshi melihat tiga orang polisi menghampiri ke arah mereka, Munshi berkata pada Anirudh unruk menyerahkan pistol ditangannya dan meminta agar Anirudh percaya padanya bahwa Munshi akan menangani semuanya.

Anirudh bertanya pada Munshi" apakah aku bisa percaya percaya pada mu?" kau bisa menganggapnya itu sebagai permintaan dari ku, tapi jika gadis itu menderita kerugian.., aku tidak bisa memaafkan baik kau atau juga diri ku sendiri". Paman Munshi berkata pada Anirudh untuk memintanya jangan khawatir. Anirudh berjalan pergi, Munshi meminta agar supir membawa Anirudh pulang dan memastikan agar supir tidak kembali dalam keadaan apapun kemudian memintanya untuk segera pergi, supir pergi membawa Anirudh.

Paman Bondita berkata kerabat kakek tua " maukah kau menunggu sampai malam ini?".., atau haruskah aku mengatur agar kau pwrgi dari sini?". Pria tua yang jg kerabat kakek tua berkata" jika jasad ini dibiarkan terbuka maja burung nasar akan mulai berterbangan disekitar sini, ritual terakhir untuk kakak ku, akan dilakukan didesa ini dengan mengikuti adat". Ketika Sampoorna akan membawa Bondita yang pingsan pergi, nenek tua melihatnya kemudian menghentikannya “Tunggu, kemana kau akan membawa gadis jahat  itu (Bondita) pergi?”.., apakah kau tidak mendengar ?”.., ritual terakhir akan dilakukan dengan semua kebiasaan  ,emurut adat”.., ketika seorang suami meninggal maka sebagai istrinya juga akan pergi kesurga bersamanya”.., jadi gadis jahat itu juga harus melakukan Sati!” (membakar diri hidup-hidup”.  Semua orang tersentak kaget dan bertanya-tanya tentang perkataan nenek tua (adik ipar) mendiang dari kakek tua renta.

Paman Bondita berkata seolah tidak percaya “Sati?”..,  tidak.., Bondita harus tetap hidup menjadi seorang jandadan itu menurut adat, tapi dia tidak akan mati bersama suaminya”. Nenek tua bertanya pada Paman Bondita dengan kesal “kenapa?”.., apakah gadis itu (Bondita) berasal dari kasta Brahmana yang lebih tinggi?”.., apakah karena gadis itu telah hamil?”.., jika tidak lalu apa yang akan dikatakan oleh adat dan juga tradisi?”.., gadis jahat ini (Bondita) telah membawa dosa yang telah kau lakukan.., dengan mengirimkannya kesurga besama dengan mendiang suaminya (kakek tua renta) setelah kematiannya”.., jangan lupa bahwa dia (Bondita) telah menjadi seorang Janda” dan putri mu juga menikah di altar yang sama”.., kami tidak pernah mengorbankan adat dan juga tradisi”.., menurut adat kebiasaan dalam klan kami , dia (Bondita harus mengorbankan hidupnya untuk suaminya yang telah tiada”. Semua orang hanya terdiam.

Sampoorna bertanya pada nenek tua “Bukankah pernikahannya masih belum selesai?”.., sumpah ketujuh telah tertunda, sindoor tidak dipakikan pada dahi Bondita.., lalu bagai mana kau bisa mengatakan bahwa Bondita sudah menikah sebelum Sindoor dipakaikan padanya?”. Wanita tua berkata pada Sampoorna “ Bukankah haldi dari kakak ipar ku telah di lakukan pada adik mu (Bondita)?”.., lalu bagaimana kau bisa mengatakan bahwa pernikahan ini masih belum selesai?”.., dia (kakek tua yang merupakan kakak iparnya) terjatuh saat mengambil sumpah pernikahan ketujuh dan bagaimanapun itu telah selesai.., jadi itu akan dianggap bahwa pernikahannya telah dilakukan”.., “Jika kau tidak percaya kau bisa membacanya pada buku teks suci, itu jika kau mau.., jika kau tidak ingin menjadi berdosa  akan menjadi alasan untuk lebih banyak wanita di desa ini yang akan menjadi janda, maka kau harus menyelesaikannta sesuai dengan kebiasaan mengirimnya kesurga bersama dengan mendiang suaminya”.

Semua orang setuju dengan pendapat nenek tua itu dan seorang wanita menimpali ucapannya “Seorang janda haruslah mati bersama dengan suaminya .., maka dharna haruslah menang”. Pendpaat lainnya juga setuju bahwa tidak aka nada yang bisa melanggar kebiasan itu dan semua orang lainnya menjadi setuju. Kakek tua yang juga merupakan kerabatnya berkata bahwa Sati harus segera dilakukan. Paman Bondita terdiam sejenak, lalu ia berkata pada kerabat dari besannya (kakek dan nenek tua), ia menyetujuinya berkata “Baiklah”. Semua orang tersentak kaget, paman Bondita mengatakan “ Jika itu merupakan tugas yang suci bagi seroang istri  maka Bondita juga akan memperaktekkan kebiasaan itu”. Sampoorna terkejut saat mendengar ucapannya.

Dalam perjalanannya menuju kerumah bersama dengan Supir, Anidrudh sangat gelisah dan mencemaskan nasib Bondita, ia masih memikirkan tentang pernikahan kakek tua renta dengan seorang gadis yang masih belum cukup umur (Bondita), Anirudh berfikir tentang ucapan polisi  dan juga ucapan pria bule ketika mereka bertengkar bahwa nasib wanita dinegaranya akan terus ditindas ketika suami mereka meningga; maka wanita yang telah menjanda juga akan dibakar idup-idup. Bibi Mami mengambil Bodnita yang pingsan dari Sampoorna. Sampoorna berfikir bahwa dirinya harus memberitahu pada Anirudh jia mereka semua akan membakar Bondita hidup-hidup, Sampoorna pergi dari sana. Anirudh yang masih dilemma berfikir “ mengapa aku masih tidak ingin kembali.., yang bisa ku pikirkan hanyalah gadis itu.., siapa yang tahu apa yang terjadi padanya?”.., apakah aku telah membuat kesalahan dengan meninggalkannya disana sendirian?”.

Persiapan untuk membakar Bondita hidup-hidup telah di lakukan, mereka juga akan memberikan tempat peristirahatan terakhir untuk kakek tua renta, nenek tua mengatakan bahwa dia akan disembah sebagai dewi  dan semua orang akan menghormatinya saat dia pergi untuk mejaga bendera tardisi  tetap berkibar tinggi.

Munshi berfikir tantang ucapan bahwa jika gadis itu (Bondita)  teraniyaya maka Anirudh tidak akan memaafkan dirinya sendiri dan juga paman Munshi. Munshi berfikir “ aku mohon maaf tuan, aku tidak bisa untuk mengumpulkan kebaranian  untuk melawan masyarakat”.

Tanpa mereka smua duga, Ibu kandung Bondita (Sumitra) datang menarik putri kecilnya yang masih belum sadar, ia berkata “Aku tidak akan membiarkan Bondita dibakar hidup-hidup!”.., dia masih belum dapat memahaminya .., ku mohon birakan Bondita untuk tetap hidup!”.

Seorang wanita memarahi Sumitra “Kau jangan menganggu syariat (Hukum dan aturan) agama”. Sumanti bertanya padanya “apakah itu benar untuk dilakukan, untuk mempertimbangkan sorang anak kecil sebagai Dewi?”.., apakah semua itu benar untuk mengorbankan seorang anak dalam altar / alasan untuk agama?”.., Jika iya maka aku memohon untuk menyelamatkan hidupnya  agar tidak mematuhi agama ini.., mungkin saja kau menganggapnya tidak menguntungkan, tapi setidaknya aku masih bisa untuk memeluknya!”.., Biarkan dia (Bondita) hidup.., ampuni hidupnya”. Sumitra menggendong Bondita namun Bibi Mami, nenek tua dan bebrapa orang wanita menghalangi langkahnya, Sumitra meminta agar mereka membiarkan Bondita untuk pergi namun para wanita, bibi Mami dan nenek tua memisahkannya dari pelukan Sumitra, semua orang hanya terdiam untuk menonton.

Anirudh masih bimbang dengan Pikirannya “ aku tidak akan bisa tenang.., bahkan nanti setelah aku sampai dirumah, aku akan tetap merasa kahwatir”. Anirudh meminta pada Supir untuk kembali namun supir menolaknya dengan beralsan bahwa dirinya hanya disuruh untuk mengantarkan Anirudh untuk pulang kerumahnya. Sumitra tetap memperjuangkan Bondita dan tidak berdaya ketika semua wanita memaganginya. Anirudh mengatakan pada supir  bahwa ini tentang pertanyaan antara hidup dan juga mati, ia mengacaukan kemudi supir dan kemudian mobil menabrak pohon.

Sumitra dikat oleh para wanita, ia terus memohon dan bertanya “menurut kalian semua ini apa?”.., biarkan aku pergi!.., Bondita!”. Sumitra memohon pada semua orang yang telah berhati batu untuk membiarkan agar Bondita tetap dibiarkan untuk hidup.

Nenek tua (Adik ipar) dari mendiang kakek tua renta memarahi Sumitra dan bertanya padanya “apakah ini hanyalah persaan mu yang lebih penting dari pada tradisi kami?”.., apa kau tahu, masyarakat tidak pernah mendengarkan serorang wanita.., apa lagi kau seorang Janda”.., bersama dengan jasad suaminya maka kecantikan, harapan  dan mimpinya juga akan dibakar hidup-hidup”.., kenapa kau harus repot untuk membuatnya (Bondita) tetap hidup?”. Sumitra tetap memohon tapi tidak seorang pun yang peduli dengan tangisan dan air mata serta kepedihan hatinya. Wanita tua itu berkata kepada semua orang untuk bersiap untuk upacara pemakaman. Sumitra terikat dan ia berteriak sangat pilu karena tidak sanggup untuk kehilangan Bondita “Tidaak!”.., kau akan dikutuk jika kau mengambilnya dari ku”.

Paman Bondita berkata pada Munshi “pesta pernikahan anatara Sampoorna dan Saurabh tidak boleh tertunda oleh kejadian ini.., bawalah sampoorna pergi bersama dengan mu”. munshi mengatakan pada paman Bondita “ apapun itu yang kau inginkan”. Munshi memberi salam perpisahan dan pergi. Sumitra memohon agar mereka semua membiarkan agar Bondita tetap hidup, namun Bondita akan tetap dibawa bersama dengan pemakaman kakek tua renta.

Malam hari, semua orang keluar menandu jasad kakek tua renta dan beberapa orang menandu Bondita yang masih belum terbangun. Tandu telah keluar dari rumah Bibi Mami. Bibi Mami dan dua orang wanita hanya mengantar mereka sampai digerbang. Seroang wanita mengatakan pada Bibi Mami (wanita sebelah kiri) “Nasib Bondita dan juga Sampoorna sangatlah berbeda.., yang satu telah menikah dan yang lainnya telah menjanda”. Sumitra yang masih terikat bertanya-tanya “ adakah orang disana?”.., biarkan aku pergi”.

Sementara itu, Anirudh sedang dalam perjalanannya kembali kerumah Bibi Mami dan Sumitra mencoba untuk melepaskan tali yang mengikat pada kedua tangannya, dan Sumitra berhasil melepaskan tali dari kedua tangannya, Anirudh sampai dan bertemu dengan Anirudh dan bertemu dengan Sumitra yang tidak berdaya dan menangis dihadpannya, ia memohon agar Anirudh menyelamatkan Bondita dan mereka semua akan membunuhnya dan akan membakar Bondita hidup-hidup. Sumitra berlutut dihadapan Anirudh dan terus memohon agar Anirudh menyelamatkan Bondita, namun Anirudh meminta agar Sumitra berdiri, Sumitra tidak bisa banyak berbicara ia hanya bisa mengulangi ucapannya pada Anirudh untuk segera membantu anaknya (Bondita) dan kemudian ia mencari keberadaan Bondita.

Anirudh akhirnya sampai pada iringan pengantar Jasad kakek tua renta dan menghadangnya “Tunggu.., aku bilang tunggu”. Mereka menurunkan tandu Bondita dan tandu jasda kakek tua renta. Seorang pria (berbaju putih) berkata pada Anirudh “ kau telah kembali”. Dan memerintahkan pada semua orang untuk memukuli nya. Anirudh diserang namun ia berhasil untuk mengalahkan mereka semua, anirudh meminta kepada mereka untuk jangan berani maju menyerangnya.

Sumitra datang dan Anirudh memintanya untuk menjaga Bondita, Anirudh memukuli semua pria yang berusaha untuk menghalanginya, kemudain anirudh menjatuhkan dua tong ketanah, dan mintak pun tertumpah, Anirudh berkata “ Jika kau mencoba untuk menyentuh gadis itu.., maka aku akan membakar desa”. Anirtudh menjatuhkan api pada tumpahan minyak, mereka terpisahkan dengan nyala api dan Anirudh dipihak Sumitra dan Bondita.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Comments