BARRISTER BABU 21 FEBRUARI 2020 EPISODE 9



INTERPRETASI SINOPSIS BY MADE TITIS MAERANI











DESKRIPSI FILM :

Setelah kematian suami Bondita (kakek tua), penduduk desa mencoba dengan paksa untuk mendorongnya dalam tumpukan kayu mendiang kakek tua renta, Anirudh membalik keadaan saat ia bersiedia untuk meinikahi Bondita untuk menyelamatkannya dari kemarahan penduduk desa.

 

 

SINOPSIS EPISODE 9

Paman Bondita berkata pada Anirudh “Kau telah menciptakan penghalang dalam perbuatan yang suci”. Anirudh bertanya “apakah ini termasuk kedalam perbuatan suci?”.., jika ini perbuatan yang suci .., maka aku akan lebih suka untuk menjadi orang yang berdosa.., bukankah kau menganggap diri mu sebagai figure seroang ayah untuk gadis ini (Bondita) ?”.., dan apakah seperti ini perilaku seorang ayah?”.., kau telah berubah menjadi orang berhati dingin sehingga kau bisa tahan  untuk melihat keponakan mu ini mati, karena kau tidak bisa mengumpulkan keberanian untuk mengambil satu batu untuk bisa menyelamatkannya”.

Paman Bondita berkata pada Anirudh “apa yang bisa aku lakukan?”.., ini sudah menjadi kebiasaan selama bertahun-tahun, bahkan jika aku menghentikannya hari ini.., lalu apa yang selanjutnya yang akan terjadi?”.., Bukankah dia (Bondita) sudah tidak memiliki suami  atau juga figure seroang ayah  yang dapat melindunginya.., untuk siapa lagi dia harus hidup?”. Anirudh berkata “  mengapa dia harus menjalani hidupnya  untuk orang lain?”.., dia (Bondita) akan tetap hidup untuk dirinya sendiri”. Paman Bondita berkata pada Anirudh “Seorang wanita yang sendirian tidak akan pernah bisa memimpin untk kehidupannya yang lebih bermartabat”.., ayah, suami, anak.., dia (Bondita) membutuhkan seseorang untuk bisa melindungi kehormatannya”.

Anirudh mengatakan pada paman Bondita “ menjadi Ibu, anak perempuan dan menjadi seroang istri”.., lalu apakah seroang pria membutuhkan salah satu dari mereka untuk menjalani kehidupan yang terhormat?”. Semua orang hanya terdiam. Anirudh berkata “Tidak, kan?”.., lalu kenapa setiap wanita membutuhkan seorang pria untuk melindungi kehormatannya?”. Semua orang bertanya-tanya dengan ucapan Anirudh. Sumitra hanya menangis dan memeluk Bondita. Anirudh menuntut pada mereka “ Katakan pada ku!”. Paman Bondita mengatakan pada Anirudh “ Mengapa kau bertanya pada kami?”.., tanyakan saja itu pada ibunya yang telah menjanda”.., apakah dia mau kehidupan seperti yang dimilikinya  untuk Bondita?”.., hanya aka nada kehidupan dalam kegelapan didepan untuk janda yang malang itu!” .., tidak akan ada orang yang akan membawa kebahagian kedalam kehdiupannya”

Anirudh bertanya “apakah salah satu dri kita adalah dewa?”.., apakah ada dewa disini?”.., tidak, kan?”.., bagaimana kau bisa sampai yakin  jika hidupnya akan menjadi hancur?”. Semua orang hanya terdiam. Anirudh mengatakan “ Bagaimana jika gadis ini membawa harapan untuk kehdiupan dan untuk semua wanita?”.., wajahnya yang penuh dengan cahaya ini bisa berubah menjadi  cahaya panutan untuk banyak orang .., lalu bagaiman kau bisa untuk memprediksi masa depannya?”. Paman Bondita mengatakan pada Anirudh” apa gunanya memikirkan masa depan .., orang yang hadir telah menjadi hancur?”.., kau mungkin saja bisa menghentikan kami sekarang  tapi apakah ada yang akan menerimanya di masyarakat.., dimasa depan?”.. Tidak”.., jadi apa yang kau inginkan dia mati pada seribu kematian setiap hari dalam hidupnya?”.., apakah kau memang menginginkan hal itu?”. Anirudh bertanya “apakah kau akan membiarkannya menjadi mangsa dalam praktik yang tidak adil seperti mitu?”.., kau tidak memiliki keberanian untuk bisa merawatnya”. Semua orang hanya terdiam. Anirudh berkata “baiklah jika tidak ada seroang pria yang akan peduli dengan gadis ini, maka aku yang akan bertanggung jawab untuknya, aku yang akan merawatnya, aku akan membawanya selalu bersama dan juga akan membimbingnya”.., aku akan membuatnya untuk begitu mampu bahwa suatu hari nanti dia akan menatap mata mu dan meminta atas semua haknya, dia akan menuntut semua haknya!”. Paman Bondita bertanya pada Anirudh “Kemana kau akan membawanya?”.., untuk siapakah kau akan menlidunginya atas semuanya?”.., masyaraka akan bertanya kepada mu disetiap langkah”.., apakah kau bisa untuk bersama dengan keponakan ku seperti  bayangan setiap saat?”. Anirudh mengatakan pada paman Bondita “bayangan hanya akan muncul jika ada cahaya, tapi aku Anirudh Roy Caudhary akan selalu berdiri disampingnya bahkan disaat tergelap”. Semua orang hanya terdiam.

Kakek tua berkata untuk mengejeknya “hanya akan ada satu bayangan yang akan menjadi milik mereka, dan kau.., menurut mu bagaimana kau akan mendukungnya?”.., berdasarkan apa hubungan itu, maukah kau melindunginya dari masyarakat?”.., kau bukanlah ayahnya atau juga kakak laki-lakinya, kau sama sekali tidak punya hubungan dengannya, lalu apa hak mu, sehingga kau harus membawanya pergi dari sini?”. Anirudh menatap wajah Bondita, kakek tua mengatakan pada Anirudh “apakah kau pikir kami tidak tahu apakah orang kaya seperti mu memperlakukan pada gadis-gadis muda dari keluarga miskin?”. Anirudh kehabisan kata-katanya, kakek tua terus marah berkata “lupakan rasa hormat, mereka akan memperlakukan gadis itu  seperti pelayan dan membuat mereka bekerja keras”.., hidup dengan orang kaya seperti mu tidak kurang seperti terbakar diapi neraka”. Paman Bondita menimpali pendapat kakek tua “lebih baik menderita sebagai janda dan menjalankan hidup yang menyedihkan, seharusnya dia mengikuti tradisi dan menjadi terhormat”. Anirudh berkata “Tua?”. Kakek tua lainnya marah dan bertanya-tenya tentang keberadaan Anirudh “siapakah anak itu, yang berjuang untuk gadis itu?”. Semua orang juga menanyakan hal yang sama tentang Anirudh.

Pria berbaju putih berkata “apa hubungannya dia dengan Anirudh?”. Mereka semua menuntut hal yang sama status hubungan Anirudh dengan Bondita “apa hubungannya, beritahu pada kami?”. Kakek tua memerintahkan dan meminta untuk membawakan air dan mematikan api dan memerintahkan agar segera membawa Bondita kerana waktu sudah lewat untuk melakukan upacara Sati. Mereka menuangkan air di atas kobaran api, Sumitra menangis ketakutan dan Anirudh memintanya agar tidak kahwatir dan memintanya untuk percaya padanya. Anirudh mengatakan pada sumitra “aku tidak akan membiarkan baha datang pada putri mu”.., “aku Anirudh Roy Caudhray berjanji tidak aka nada yang bisa mengambil langkah lebih jauh”. Sumitra menangis berkata “anak ini juga tidak punya ayah bukan sudara, bukan suami”. Sementara kakek tua dan semua orang melangkah maju, Sumitra mengatakan “anak ini tidak punya siapa-siapa”.., mereka semua gila, mereka marah”.., dalam kemarahan mereka.., mereka akan membunuh putri ku”.

Api berhasil dipadamkan, mereka semua terus berjalan maju kearah Anirudh untuk merebut Bondita, Anirudh berkata bahwa akan menikahi Bondita, dan terus melangkah maju, Airudh mengatakan dengan marah “aku akan menjadi suaminya dan itulah aku akan menamakan hubungan ini”. Semua orang tidak menghiraukan Anirudh dan terus melangkah maju menghampiri, Anirudh terbelalak saat tidak melihat respon dari semua orang lalu melangkah mundur dan mengambil bubuk merah (Sindoor) dan memakaikannya di dahi Bondita “Aku akan menjadi suaminya dan memberikan nama atas hubungan ini”,  semua orang menghentikan langkah kakinya, Anirudh menantang “Majulah kalau kalian berani!”.., dia adalah istri ku!” . anirudh menantang mereka semua “Ayolah “. Layar terpecah menjadi dua antara Anirudh dan Bondita.

Sudamini hanya tersenyum bahagia ketika melihat dari jendela kearah balkon rumah Anirudh. Neneknya datang dan memanggilnya “Mini”. Sudamini mengatakan pada nenek “Anirudh akan menatap mata ku dan mengatakan aku mencintai mu pada ku”.., dia akan mengatakan pada ku bahwa dia mencintai ku, dia akan memegang tangan ku dan berkata bahwa dia tidak akan bisa hidup tanpa ku”.., kemudian ..”. Nenek berkata dengan penasaran “Kemudian..”. Sudamini kesal dan perrgi, ia berkata pada nenek “kemudian dia akan belutut maukah kau menikah dengan ku?”. Nenek bertanya pada Sudamini “dan apa yang akan menjadi jawaban mu?”. sudamini mengatakan “tidak”. Senyum nenek menjadi hilang karena terkejut setelah mendengar jawaban Sudamini. Sudamini mengatakan pada nenek “dia sudah membuat ku menunggu ku begitu lama, aku juga akan membuatnya menungguaku akan menganggunya (menggodanya) sedikit dan kemudian aku akan mengatakan iya”. Sudamini tertawa senang , namun nenek memperingatakannya “jangan membuat keslaahan itu”.., saat Anirudh melamar mu maka segeralah terima”..”bagaimana jika kau mengatakan tidak dengan bermain-main, Anirudh pasti akan menanggapinya dengan serius, jangan biarkan cinta mu terpelset, jika ada sesorang maka kau akan menyesal kemudian”. Sudamini marah pada nenek berkata “apakah kau mendukung ku (semipatasin ku) atau kau memang musuh ku?”.., bagaimana kau bisa berfikir seperti itu?”.., kau akan melihat aku akan pergi ke London setelah menikah dengan Anirudh, aku akan menyingkirkan obsesinya tentang perubahan / peningkatan sosial”.., kami akan hidup bahagia sebagai pasangan suami istri, dan kau akan menggeliat sendirian disurga yang tuli!”. Nenek kesal dan menarik rambut Sudamini, dan Sudamini menjerit kesakitan, nenek pergi dari kamar Sudamini. Sudamini berfikir “Anirudh, berapa lama lagi aku akan menunggu?”..,setelah aku mengatakan pada mu jika kau jangan datang pada ku hari ini, maka hati ku akan hancur.., kau dimana?”.

Anirudh dalam perjalanan pulang bersama dengan supir dan Bondita yang duduk di bangku belakang. Anirudh hanya terdiam ia memikirkan pernikahannya dengan Bondita di kuil, kilas balik menampilkan ketika Bondita dinikahkan dengan Anirudh, Bondita membuka matanya dan heran saat melihat Anirudh di hadapannya. Bondita bertanya pada Anirudh “kau siapa?”.., apakah kau calon suami ku?”. Anirudh hanya terdiam. Sumitra, paman dan bibinya menjadi sakis atas pernikahan mereka, Bondita menguap dihadapan Anirudh dan berkata bahwa dirinya mengantuk, dan Bondita baru saja merasa dirinya terbangun dari tidur yang sangat nyenyak dan bertanya pada Anirudh “apakah kau juga mengantuk?”. Anirudh hanya terdiam menatap Bondita. Kilas balik berakhir. Anirudh masih terdiam, ia melihat karangan bunga, Anirudh mengingat saat pandit ji memintanya untuk mengalungkan karangan bunga pada mempelai wanita. Kilas balik kembali ditampilkan, saat pandit ji menyerahkan karangan bunga dan meminta agar Anirudh mengalungkan karangan bunga itu pada Bondita. Paman Bondita mengatakan pada Bibi Mami “Lihatlah, sepertinya dia berubah pikiran”.., dia tidak akan mengalungkan karangan bunga itu dileher Bondita, lalu apakah dia kan lari meninggalkan upacara pernikahan yang masih belum selesai?”. Anirudh marah dan kesal, ia mengambil karangan bunga itu dan mengalungkannya pada Bondita dan ketika Bondita akan mengalungkan pada Anirudh ia kesulitan karena anirudh bergitu tinggi, Bondita melimpat-lompat untuk bisa memakikan karangan bunga itu pada Anirudh, Bondita mendapatkan ide untuk mencubit Anirudh sehingga Anirudh membungkuk dan kesakitan dan kemudian Bondita mengalungkan karangan Bunga itu pada Anirudh.Bondita sangat senang dan bertepuk tangan berkata “kau telah mengalungkan bunga dileher ku!”. Anirudh hanya terdiam menatap Bondita. Kilas balik berakhir, Anirudh membuang karangan bunga itu.

Anirudh mengingat  proses pernikahan dan pengambilan sumpah ketika pandit ji meintanya untuk melangkah maju. Kilas balik ditampilkan ketika pandit ji meminta untuk datang ke altar pernikahan antara Bondita dan Anirudh. Bibi Mami mengikatkan kain pada kedua pasangan pengantin dan ia terlihat sangat sinis dan kesal, kilas balik berakhir.

Anirudh menatap tangannya ia mengingat ketika memakian sindoor di dahi Bondita. Kilas balik ditampilkan saat Anirudh menaruh Sindoor di dahi Bondita. Pendeta berkata “kau telah menaruh Vermillion (Sindoor) .., sekarang setelah kau menikah kau akan selalu bersama selamanya.., sekarang kalian sudah menjadi Suami dan istri”. Sumitra tersenyum bahagia.ki kilas balik berakhir.

Anirudh melihat kembali ritual pernikahannya dengan Bondita, sumitra tersenyum bahagia dan melihat di kejauhan. Kilas balik berakhir. Seorang pria mengatakan “seseorang sedang menunggu mu dirumah”.., aku takut sampai ketulang!” berita ini akan membuat semua anggota keluarga mu mejadi marah”.., “aku takut sampe ketulang” Kias balik kembali ditampilkan saat Bondita dan Anirudh melakukan pemutaran api suci dan mengucapkan sumpah pernikahan mereka”. Sumitra menarik nafas lega dan memberkati Bondita dan Anirudh. Kilas balik berakhir.

Anirudh mengingat ketika Bondita sah menjadi sitrinya dan Bondita berpamitan pada teman-temannya didesa, dan kemudian pulang kerumah Anirudh, Bondita mengucapkan salam perpisahan untuk mereka semua. Kilas balik berakhir, Anirudh menatap kursi belakang mobilnya, ia melihat Bondita hanya tersenyum senang, Bondita menguap, ia mengantuk dan tertidur pulas di kursi belakang. Anirudh mengingat saat ia berkata pada semua orang bahwa dia akan menikahi Bondita dan memakikan sindoor di dahinya, anirudh memnatap tangannya dan mengingat ketika memakaikan sindoor di dahi Bondita dan memngingat ketika Bondita meminta pada Sumitra (ibu kandungnya) untuk mengunjunginya segera, kilas balik selesai.

Bondita sangat senang bahwa ini merupakan pertama kalinya ia duduk di mobil. Bondita berfikir bahwa ketika ibunya datang untuk mengunjunginya, mereka berdua akan duduk berdua naik mobil dan bersenang-senang. Anirudh hanya terdiam sepanjang perjalanan, dan akhirnya Anirudh sampai dirumahnya (Havelinya). Supir berkata bahwa mereka sudah sampai dirumah, Anirudh hanya diam terpaku.

Bihari datang menyambut Anirudh dan bertanya “kemana saja kau seharian ini, tuan?”.., semua orang sudah lama menunggu mu dirumah!”. Bihari meminta agar supir membuka pintu dan dia akan membawa semua barang bawaan milik Anirudh. Bihari menatap heran seorang gadis (Bondita) memakai pakian penganten, Bihari berkata pada Supir “Biasanya orang memberikan sesuatu kepada pengantin wanita selama pernikahannya, lalu apakah Anirudh membawa pengantin wanita yang dianggap sebagai hadiah?”. Bihari tertawa geli dan bertanya tentang Bondita pada supir “siapakah dia?”. Supir menjelaskan bahwa Anirudh telah pergi kepesta pernikahan , Supir menceritakan semua kejadian pada Bihari. Supir mengatakan bahwa berita tentang pernikahannya dengan Bondita akan membuat semua anggota keluarganya menjadi sangat marah, Bihari ketakutan dan berlari “aku takut sampai ketulang. Bihari berlari masuk kedalam rumah Anirudh. Layar terbelah menjadi dua antara Anirudh yang masih terdiam  dan Bondita yang tertidur nyenyak.

 

 

 

 

Comments